Makna Damai Sesungguhnya

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: “Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9:5

Renungan Harian – Setiap suasana bulan natal seperti sekarang umat kristiani seluruh dunia merayakan kelahiran Yesus Kristus, dengan berbagai nuansa kegembiraan yang diujudkan melalui ibadah. Ini tentu lumrah, berkenaan dengan peluang keselamatan tidak akan pernah terbuka bagi kita orang berdosa, sekiranya Yesus tidak lahir ke dunia. Meskipun perlu diwaspadai agar upacara memperingati “kelahiran sang Juruselamat Dunia” jangan sampai melenceng dari hakekat ideal-Nya. Mengingat pentingnya sisi ini, kita akan kupas tuntas pada renungan berikut demi menghindari salah kaprah saat merayakan natal.

Adapun bagian yang akan kita sikapi, ialah makna damai yang berkaitan dengan ayat renungan hari ini. Itulah nubuatan Alkitab Perjanjian Lama yang telah dicanangkan oleh nabi Yesaya meskipun penggenapannya masih menunggu sekitar enam ratus tahun kemudian. Yang menarik perhatian dari pernyataan nats tersebut adalah nama yang disebutkan orang kepada putera yang lahir itu sebagai, “Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Demikian Kitab Suci menulis. Di zaman Alkitab nama menjadi kapasitas, seperti tersirat pada nama-nama orang yang dicatat di seluruh lembaran firman Tuhan berlatar belakang Bahasa Ibrani, Aramic dan Yunani. Sebagai “Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal” sungguh terasa dan terlihat nyata selama pengalaman Yesus berada di dunia, melalui perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib, mujizat-mujizat hingga mati disalib kemudian bangkit kembali. Ketiga hal ini telah cukup membuktian keajaiban, keperkasaan dan kekekalan-Nya hingga sekarang Dia telah duduk di sebelah kanan Bapa di Surga kekal selama-lamanya. Yang menjadi pengharapan dan dinanti-nanti oleh para pengikut-Nya adalah Raja Damai.

Sering muncul pertanyaan, “Mengapa sejak kelahiran Yesus Raja Damai itu ke dunia ini sekitar dua ribu tahun silam, pada hal dunia belum pernah berdamai secara universal hingga sekarang?” Malahan trends menunjukkan bahwa keadaan semakin kacau sedangkan pemicu kekacauan lebih didominasi persoalan-persoalan agama. Apalagi bila merenungkan lyrik lagu rohani Bahasa Batak yang sering dinyanyikan pada setiap perayaan natal, “somba nami ma di ho natubuon, Ho siboan dame tu Portibion.” (Kami sembah Engkau yang lahir, pembawa damai ke dunia). Sungguh menyentuh bukan? Namun di mana damai itu? Pertanyaan ini wajar, asalkan jangan mencari jawabnya dengan bertanya kepada rumput yang bergoyang. Alkitab amat jelas dan tegas memberikan keterangan dan jika itu dimengerti, saat itulah kita memaknai damai yang sesungguhnya.

Mari sejenak bernapak tilas ke Betlehem seolah-olah kita berada di sana saat Kristus lahir dan mendengar sorak sorai Bala Tentara sorga memuji Allah sekaligus mengumumkan kelahiran-Nya. Demikian firman Tuhan mengatakan,

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:11-14

Perhatikan poin penting dari pernyataan bala tentara sorga ketika mereka memuji Allah saat kelahiran Yesus sang Juruselamat dunia, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Artinya, damai sejahtera hanyalah bagi siapa saja yang berkenan kepada-Nya, baik ketika itu maupun hari ini. Hanya segelintir orang yang mengakui saat itu bahwa yang lahir dalam palungan tersebut adalah Juruselamat. Bahkan di tempat kelahiran-Nya hingga kini, masyarakat umum masih menantikan Yesus akan lahir. Mata rohani mereka dibutakan oleh perkara-perkara duniawi, dengan asumsi mengapa Yesus Sang Raja lahir sehina itu. Padahal mereka tidak menyadari penyebab kelahiran-Nya di kandang domba tidak lain karena tiada orang yang mau menerima Yosep dan Maria yang melahirkan Yesus di rumah mereka atau pun di penginapan, (Lukas 2:6,7).

Inilah yang patut dikaji dalam-dalam dan harus direnungkan dengan cermat. Jangan sampai terulang kembali sikap yang sama ketika memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Kita beribadah merayakan natal, tapi sesungguhnya kesombongan diri menghalangi Yesus masuk ke dalam hati. Sadar atau tidak, sering perayaan natal diwarnai oleh keangkuhan melalui penampilan berpakaian, perhiasan dan lain-lain. Jika demikian motifnya, maka Raja Damai itu tidak akan lahir dalam hati karena yang dikedepankan adalah harga diri pribadi. Akhirnya damai sejahtera yang didambakan hanya impian. Kuncinya adalah “hati” yang menerima dan berkenan pada-Nya.

error: Content is protected !!