Kuantitas Atau Kualitas

Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat. Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lebih lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya. Pengkhotbah 8:11, 12.

Penyejuk Jiwa sangat dibutuhkan di celah-celah kehidupan dunia yang semakin tidak menentu ini, dimana hati setiap orang miris menyaksikan tindak kejahatan. Kadang kala cukup membingungkan karena kejadianya cukup aneh tetapi nyata di depan mata. Bagaimana siswa-siswa sekolah menengah pertama setelah menjalani ujian akhir ugal-ugalan di jalan raya dan berencana mengadakan tauran. Peralatan untuk itu telah dipersiapkan dan jenisnya pun bisa melukai korban bahkan mencabut nyawa. Bukankah ini di luar akal manusia membayangkan, karena dilakukan anak-anak SMP sehabis ujian, sementara perjalanannya meraih cita-cita masih jauh di depan. Apa jadinya nanti orang-orang seperti ini, sekiranya melanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Peristiwa itupun terjadi disaat pikiran para oang tua maupun aparat, masih dihantui maraknya pemerkosaan terhadap para remaja yang kadangkala berbuntut pembunuhan di mana-mana. Menanggapi situasi seperti ini, tampillah para pakar hukum, sosiologi, kriminologi dan lain-lain yang terkait memberikan pandangan. Salah satu pemikiran yang disodorkan ialah pelaksanaan hukuman berat kepada para pelaku seperti kebiri dan hukuman mati. Bilamana berbicara untuk mencari solusi apalagi menanggulangi jenis-jenis kejahatan, tentu akan banyak pendapat dan bisa berbeda-beda sesuai dengan pengamatan masing-masing tokoh. Akan tetapi firman Tuhan menyatakan konsep sehubungan dengan perkara ini, seperti yang kita kutip pada ayat di atas,  “Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat. Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lebih lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya. Pengkhotbah 8:11, 12.

 Ada dua hal yang dapat dikaji melalui pernyataan Alkitab tersebut di atas. Pertama, melonggarkan hukuman kepada para pelaku tindak kejahatan kelas berat tidak akan menuntun mereka ke arah “jera.” Di sisi lain orang tidak merasa takut melakukan hal yang sama karena merasa ganjaranya ringan-ringan saja. Mari kita lihat bagaimana Firman Tuhan memberikan penjelasan selanjutnya, “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Ibrani 12;11. Banyak ayat-ayat dalam Kitab Suci dengan tema yang sama dengan maksud membekali setiap umat Tuhan dalam menegakkan disiplin tentunya itu untuk diri pribadi, kemudian di rumah tangga bahkan ke lingkungan masyarakat. Akan tetapi harus diingat bahwa tujuan utamanya adalah memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. itulah sebabnya, para pembaca tidak perlu harus ikut-ikutan berargumentasi apalagi sampai debat kusir membicarakan hal itu dalam skop nasional, biarlah itu menjadi urusan para penegak hukum. Namun untuk ruang lingkup keluarga ambil komitmen untuk menerapkanya, selidiki Alkitab yang memberikan materi sehubungan dengan itu secara lengkap. Hasilnya akan nyata. Kita semua tidak boleh lupa dengan pernyataan para sosiolog sehubungan semakin meningkatnya kenakalan remaja, sesungguhnya yang salah bukan di jalan raya, bukan di sekolah melainkan di rumah tangga.

Mari kita telusuri bagian kedua dan inilah yang amat penting untuk direnungkan. Tidak dapat dipungkiri melalui kenyataan di tengah masyarakat bahwa orang yang melakukan kejahatan bisa hidup lebih lama dan juga punya lebih banyak harta. Justru dengan kondisi penomenal inilah sehingga kadang kala timbul rasa kecemburuan dan tidak jarang melunturkan iman umat Tuhan. Jika dalam benak anda mulai singgah pemikiran seperti itu adalah wajar. Pemazmur sendiripun yaitu Asaf pernah mengalami hal yang sama dan itu ditulis selengkapnya di Mazmur 73. Yang tidak wajar bilamana berhenti hanya di situ, karena jika demikian setan akan datang mengembangkanya untuk merongrong kepercayaan kita kepada Allah  Yang Maha Adil. Semua yang mereka nikmati hanya sekedar bobot kuantitas kehidupan, sedangkan orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan. Inilah kualitas hidup dimana hanya Tuhan saja yang dapat memberikan, dan hanya kepada orang yang takut akan Dia. Pilih mana, kuantitas atau kualitas?

Pada renungan berikut kita akan kupas tuntas Mazmur 73. Mari kita baca dengan seksama!

error: Content is protected !!