Kesombongan Asal Mula Kejatuhan

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4:15

Renungan Harian – Lebih dari seribu satu macam kesan yang mengharukan kebanyakan bermuatan kesedihan, dari kisah tenggelamnya kapal Titanic seperti telah kita singgung pada renungan kemarin. Tak putus-putusnya para penulis memetik berbagai sisi peristiwa naas itu sesuai dengan bobot bacaan yang akan disajikan kepada publik. Ini tentu menarik perhatian berhubung ada sebanyak 710 orang yang selamat yang menjadi saksi hidup dari apa yang mereka lihat dan rasakan sendiri.

Dari sekian banyak kesan tersebut kita kutip salah satu yang tidak kalah menarik perhatian sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi anda dan saya. Seorang nenek, penumpang yang telah lanjut usia sangat kagum melihat kemewahan kapal tersebut dan menghabiskan waktunya beridar-idar di dalam, seraya manggut-manggut menyaksikan keluarbiasaan interior Titanic. Tak henti-hentinya dia berkeliling dengan rasa antusias, sesekali dia berguman, “Luar biasa kapal ini” terlebih jika ada orang yang dekat dengan dia dalam rasa kagum yang sama. Sampai satu waktu nenek itu ketemu dengan salah seorang security kapal dan melontarkan senyum bangga seraya mengucapkan kata yang sama, “Sungguh luar biasa Titanic.” Yang membuat dia semakin terperangah saat mendengar pernyataan sang petugas pengamanan itu dengan kalimat, “Ya nek namanya kapal yang tidak dapat tenggelam (Unsinkable Ship), bahkan Tuhan pun tidak akan sanggup menenggelamkan.”

Meskipun dia terharu bercampur jengkel mendengar ucapan itu namun tidak berani menegor security yang menurut si nenek, itu tidak pantas keluar dari mulut seorang manusia. Tetap terngiang di pikiranya apa yang disebutkan security tadi sementara menikmati pandangan yang baru pertama kali dia alami menyaksikan kapal semegah itu. Hingga tiba pada satu malam tepatnya tanggal 14 April 1912 pukul 23.40 watu setempat, dimana Titanic telah menabrak sebuah gunung es. Para penumpang sudah berteriak-teriak histeris berhubung kapal telah mulai oleng ke sisi kanan dengan robeknya pelat lambung hingga lima dari enam belas kompartemen kedap airnya mengalami kebocoran. Di tengah kepanikan pada malam dingin yang mencekam itu, semua orang kucar kacir mencari peluang selamat termasuk si nenek tua. Kebetulan ia ketemu lagi dengan security yang sempat membuat dia tergelitik karena omongannya, seraya memeluknya erat-erat dan berkata, “Tolong tuan apa yang terjadi, bagaimana kita dapat selamat?” Dari mulut yang sama yang pernah melontarkan kata-kata, “bahkan Tuhan pun tidak akan sanggup menenggelamkan kapal ini,” akhirnya keluar pengakuan yang mengatakan kepada nenek, “Kecuali mujizat Tuhan, tidak ada pengharapan.” Nenek tua yang kemudian dikenal bernama Wenny mengisahkan sendiri pengalamannya karena dia termasuk salah seorang dari antara 710 orang yang selamat. Wenny juga menuturkan, dia tidak melihat security yang dia sebut ada di antara penumpang yang terluput.

Perlu diketahui bahwa kapal Titanic yang terkenal mewah dan nyaman itu, pada pelayaran perdananya belum deperlengkapi dengan sekoci yang cukup untuk semua penumpang dalam kemungkinan bahaya. Bahkan sejarah mencatat berdasarkan fakta sangat minim jumlahnya. Mungkin hal ini didasari oleh unsur kesombongan karena pihak pengelola termasuk para penumpang tidak menduga akan terjadi malapetaka untuk kapal semewah itu. Itulah sebabnya sejumlah orang terkaya dunia, tidak ragu-ragu menjadi penumpang dan ternyata mereka mati binasa.

Sikap security yang tercatat dalam kisah tragis Titanic sering menjadi kehidupan umat manusia termasuk yang menamakan diri sebagai pengikut Tuhan Yesus. Ketika keadaan berjalan nyaman, berkecukupan, jangankan melupakan malah berani mengucapkan kata-kata bernada sombong mendahului Tuhan. Dengan kata lain memperlakukan Dia bagaikan pintu darurat saja, dimana orang-orang memanfaatkan hanya saat keadaan darurat. Masih ingatkah Tancredo Neves yang terpilih menjadi presiden Brazil tahun 1985?  Selagi berkampanye, ia berkata dengan lantangnya, “Bila saya dapat meraih 500.000 suara dari anggota partai, maka tidak ada yang dapat mendepak saya dari posisi kepresidenan, bahkan Tuhan sendiripun tidak.”  Nyatanya ia mendapat lebih dari 500.000 suara, tetapi sehari sebelum pelantikannya, ia jatuh sakit dan mati tiba-tiba.

Firman Tuhan lebih jauh mengingatkan, “Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.” Yesaya 2:11

Dasarkan segala rencana di atas kehendak Tuhan dan hindari kesombongan niscaya akan berhasil. Apa yang digariskan rasul Yakobus hendaknya diingat ketika merencanakan sesuatu dengan berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”  Ketentuan seperti itu harus tercetus dari hati sanubari yang murni, bukan semat-mata hanya ucapan di bibir sahaja.

error: Content is protected !!