Kesejukan Jiwa Oleh Melihat Alam Ciptaan Tuhan

Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Mazmur 121:1,2.

Renungan Harian – Perhatikan dengan seksama bagaimana Firman Tuhan melalui pemazmur memberikan indikasi kepada setiap orang yang membutuhkan pertolongan. Inilah salah satu sisi pengalaman Daud manakala menghadapi kesulitan dalam kehidupanya baik pada saat menggembala di padang belantara dengan ancaman binatang buas, demikian juga saat memangku jabatan sebagai raja. Yang dilakukan ialah  melayangkan mata ke gunung-gunung dan disanalah dia mendapatkan jawaban yang pasti bahwa pertolongan datang dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi.

Apa kira-kira korelasi antara melayangkan mata ke gunung-gunung dengan pertolongan Tuhan, sehingga Daud melakukan cara seperti itu?

Disinilah peranan “melihat” dengan hasil-hasil atau dampak yang dicerna oleh pikiran. Bukan hanya Daud, para Abdi Allah yang lain juga sering melakukan hal yang sama. Kita pun dapat menikmati kesan seperti itu apabila selalu mengarahkan penglihatan  kepada objek-objek nyata yang akan menggiring pikiran kita kepada Tuhan yang menciptakan. Pandanglah ke gunung-gunung, niscaya kita akan menyaksikan perkara-perkara ajaib di sana, dimana hanya Khalik semesta yang sanggup mengukirnya. Di situ ada keindahan, kebugaran, hamparan pepohonan dan juga bebatuan. Semuanya menenun keelokan alami yang menakjubkan. Kemungkinan-kemungkinan bencana pun ada disana yang bisa terjadi diluar dugaan manusia.  Kekuatan apapun tidak pernah berdaya menahanya jika saatnya akan terjadi. Bukankah kesan seperti ini akan memenuhi pikiran setiap orang yang selalu berupaya mengarahkan pandangan kepada karya Agung Yang Maha Kuasa? Sedangkan kuasa itu menjadi sumber pertolongan.

Itulah sebabnya sesering mungkin Daud melakukan kesempatan seperti itu di sela-sela perjalanan hidupnya, agar jiwanya selalu terangkat lebih dekat kepada Tuhan. Sebelumnya di Mazmur 19 dia menyatakan,

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya, hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar, tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.” Ayat 2-7.

Begitu menyentuh dengan warna semi puitis Daud menuliskan cerita alam jadian Allah memberitakan perbuatan tangan-Nya. Seolah-olah mereka berorak sorai sekalipun tiada kata tiada suara namun bergema ke seluruh dunia. Begitulah gambaran Daud akan kekagumanya kepada Tuhan dengan melihat ciptaan-Nya setiap saat. Memang sebagian besar perjalanan hidup ayah raja Salomo ini, dia habiskan di lingkungan alam sebagai gembala di ladang. Pengalaman yang amat berharga inilah yang menerpa pikirannya  familiar dengan berbagai keajaiban alam dari sejak masa mudanya. Ditambah lagi dengan kondisi bumi saat itu yang jauh lebih indah dari sekarang, karena sudah diterpa oleh usaha-usaha yang artificial. Tidak perlu harus ke Grand Canyon di USA, bunga tulip di Belanda, gunung Fujiyama di Jepang dan wisata alam lain di dunia. Pandanglah alam sekitarmu, maka kita akan dituntun kepada kebesaran Khalik semesta, ketimbang menggunakan waktu melihat perkara-perkara yang merusak pikiran.

error: Content is protected !!