Kembangkan Sifat Memberi (lanjutan)

Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.
1 Raja-raja 17:12.

Penyejuk Jiwa – Hati siapa yang tidak miris membaca ayat ini, bagaikan satu cuplikan sinetron yang menyedihkan dimana seorang janda tua kurus kerempeng dengan seorang anak yang telah ditimpa busung lapar, tidak lama lagi akan mati karena kehabisan persediaan makanan. Dan inipun merupakan satu kisah nyata yang Alkitab ceritakan untuk tujuan mulia bagi setiap pembaca yang meng-imani, sebagai lanjutan dari langkah ketujuh menuju sukses dengan “mengembangkan sifat memberi.”

Kejadian sebenarnya merupakan untaian sejarah yang panjang dan ditulis di kitab 1 Raja-raja sehingga semua kita dapat membaca selengkapnya.

Pada masa pemerintahan Ahab dengan permaisurinya Isebel terjadilah kemarau panjang (selama 3,5 tahun) di Israel. Satu-satunya nabi Allah yang masih tetap setia mempertahankan kebenaran pada saat itu hanyalah Elia dan dialah yang berdoa kepada Tuhan agar tidak menurunkan hujan ke bumi Israel sebagai pembelajaran kepada Ahab raja yang sangat jahat terlebih Isebel isterinya. Dapat kita bayangkan satu negara yang memiliki sumber hidup hanya dari pertanian menghadapi bencana alam seperti itu. Jangankan 3,5 tahun, setahun saja sudah cukup menjadi ancaman berat bagi pertanian dan itu dapat kita ketahui sebagai masyarakat yang tinggal di Indonesia salah satu negara agraris. Tidak heran peristiwa ini membuat Isebel menjadi gemes apalagi dia tahu bahwa penyebabnya adalah doa Elia, nabi yang dia musuhi.

Terjadilah ratap tangis menyaksikan kematian binatang-binatang piaraan karena tidak lagi yang tumbuh dari tanah menjadi makanannya, menyusul kematian manusia yang berangsur angsur kehabisan perbekalan. Alkitab mencatat bahwa selama bencana tersebut Elia dipelihara oleh Tuhan di tepi sungai Kerit burung gagak melayani dia sehingga kita percaya tubuhnya pasti sehat dan gemuk. Akan tetapi sungai Kerit pun kering ketika kemarau telah melanda selama 2,5 tahun, padahal masih harus menunggu setahun lagi. Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: “Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.” Ayat 9. Inilah awal perjumpaan seorang nabi yang gemuk dengan janda miskin bersama seorang anaknya yang tinggal menanti maut segera menjemput. Namun jangan lupa semua itu atas perintah Tuhan berarti ada maksud tertentu di dalamnya.

Setibanya di tempat yaitu Sarfat wilayah Sidon (sekarang Phoenisia) Elia kaget langsung melihat seorang janda di hadapanya persis seperti firman Tuhan. Dengan tidak ragu lagi Elia langsung bermohon  kepada janda itu diayat selanjutnya, “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.”  Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli…(ayat renungan di atas). Mendengar jawaban itu Elia tidak mengurungkan niatnya untuk memohon selanjutnya, karena dia percaya bilaman Tuhan yang perintahkan sudah pasti ada kandungan mujizat didalamnya. Itulah sebabnya tanpa sedikit ragu Elia Abdi Allah yang setia ini melanjutkan request-nya dengan mengatakan,    

 “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.”

Didasari pengenalan janda tersebut kepada nabi Tuhan dan percaya kepada Allah yang mengutus dia, langsung merespon tanpa ada sedikitpu beban dalam dirinya.

 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.  Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia. Ayat 15,16

Disinilah poin utama untuk kita tarik menjadi pelajaran bagi diri kita perihal “memberi” sesuai dengan prinsip Alkitab. Sekiranya janda di Sarfat tetap bersikukuh tidak memberikan perbekalannya yang memang telah krisis itu kepada Elia, akan benar seperti yang dia katakan mereka berdua akan mati. Akan tetapi disaat dia meng-imani perintah Tuhan melalui nabi-Nya, maka roh memberi yang dia miliki sekalipun di tengah kesulitan menjadikan dia dan anaknya menikmati hidup berkepanjangan. Alkitab mencatat bahwa mereka tetap hidup nyaman sampai hujan turun membasahi bumi. Inilah kenikmatan dari sifat memberi dan harus dikembangkan. Yang berikut kita akan melihat bagaimana itu terjadi melalui pengalaman tokoh di luar Alkitab.

error: Content is protected !!