Kaya Berhati Miskin Dan Miskin Berhati Kaya

Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; 2 Korintus 9:8-10.

Untuk mengawali renungan harian kita kali ini diceritakan pengalaman seorang anak gadis yang baru pindah ke satu kawasan pemukiman, menempati rumah mewah yang barusan dia beli. Berhubung tempat itu bukan perumahan maka tidak jarang satu rumah gedongan bertetangga dengan rumah sederhana. Demikian rumah gadis ini bersebelahan dengan satu keluarga miskin dengan dua anak yang masih bertumbuh remaja. Ketika sang gadis sedang asik mengemasi perabotannya sebagaimana pengalaman orang baru pindahan, tiba-tiba lampu PLN mengalami pemadaman. Hal itu sungguh menjengkelkan hatinya mengingat barang-barang yang masih berantakan dan belum mengetahui di mana ditempatkan alat penerang yang dapat digunakan saat darurat seperti itu, misalnya lilin ataupun korek api. Di celah kebingungannya, tiba-tiba dia mendengar seseorang mengetok pintu dan setelah dia buka ternyata anak tetangga sebelah. Spontan anak tersebut menanyakan, “kakak punya lilin nggak?” Sebelum dia menjawab telah lebih dulu muncul dalam benaknya, anggapan melalui kata hatinya, nah ini tidak enaknya bertetangga dengan orang miskin belum apa-apa sudah datang minta-minta. Hal ini tidak perlu dikasih hati agar jangan ketagihan. Maka dia langsung menjawab, “saya tidak punya lilin!” Mendengar itu si anak lansung merogo sakunya seraya berkata, “saya juga merasa kakak belum punya lilin karena baru pindah.” Sambil menyodorkan dua batang lilin ukuran sedang anak tersebut berucap, “ini kak pakailah, dan memang di tempat kita ini sering mati lampu!” Secara spontan sang gadis langsung memeluk anak itu sambil menyembunyikan wajahnya yang berlinang air mata menyesali sikap kesombongannya.

Seiring dengan berjalannya waktu gadis itupun akhirnya dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana tetangganya yang dalam kategori sosial tergolong miskin ini, namun bahagia dalam kehidupan rumah tangga. Itu pulalah yang menuntun dia mengalami perubahan yang signifikan menjadi lebih rendah hati dan hasilnya dia merasakan kebahagiaan yang berbeda.

Kemanapun kita mengarahkan pandangan sekarang, akan lazim menyaksikan phenomena seperti itu. Sudah merupakan warna dari masyarakat secara universal, dimana kita mendapati banyak ORANG KAYA BERHATI MISKIN, sementara di sisi lain BANYAK ORANG MISKIN BERHATI KAYA. Kelompok kedua inilah yang dimaksudkan rasul Paulus dalam 2 Korintus 9:8…supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

Jiwa berbagi dengan sesama hanya dapat dilakukan oleh mereka yang merasa berkecukupan, dan tidak ditentukan oleh jumlah materi yang dimiliki tetapi HATI. Inilah juga yang menjadi formula kebahagiaan sejati. Seorang penulis, berkata: “Suara-suara yang menyenangkan, kelemahlembutan dan kasih sayang yang sungguh-sungguh dinyatakan dengan baik dalam segala tindakan, disertai dengan kerajinan, kerapian dan penghematan, maka walaupun tinggal dalam gubuk, menjadikan rumah tangga itu paling bahagia. Khalik akan menerima dan menghormati rumah tangga yang demikian.” EGW, “Membina Keluarga Bahagia,” hal. 403.

Mari perkaya hati dengan kebajikan!

error: Content is protected !!