Juruselamat Sumber Ketenangan

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Matius 11:28,29.

Hampir di semua versi Alkitab menuliskan ayat renungan harian ini dalam bentuk satu perikop yang diberi topik “Ajakan Juruselamat.” Atas dasar inilah kita perlu lebih dahulu memahami beberapa poin dari ajakan Yesus Kristus kepada kita, agar jangan sampai salah mengerti sehingga kitapun enggan merespon atau menyambutnya. Salah satu dari antara kata tersebut ialah “kuk.” Berbagai kamus meskipun dalam bahasa asing memberikan pengertian yang sama bahwa “kuk” adalah sejenis alat yang dikenakan di leher kerbau atau sapi ketika hewan-hewan itu di manfaatkan untuk membajak atau membawa beban. Berarti jika dibaca hanya sekilas seperti ada kesan, suatu beban ditambah di pundak kita, itulah kuk.

Akan tetapi jika benar-benar direnungkan sesuai dengan fungsinya maka para pembacapun akhirnya mendapatkan pengertian yang sebenarnya dimana “Kuk” ternyata sebuah alat yang menjadikan satu beban berat, dipikul menjadi ringan. Alat itulah yang disodorkan oleh Juselamat, sehingga beban-beban kehidupan ini bagaimanapun beratnya akan menjadi ringan bagi orang yang datang memenuhi panggilan Juruselamat. Sekali lagi, itulah “Kuk.”

Satu hari di waktu pagi, seorang penjaja surat kabar sedang berteduh di satu emperan toko. Hujan turun dengan lebatnya sehingga dia tidak dapat menjajakan korannya. Terbayang di benak saya yang sementara kami sama-sama berteduh, bagaimana dia dapat uang jika hari terus hujan seperti ini. Namun kegalauan yang saya bayangkan tidak sedikitpun terlihat di wajah penjaja koran tersebut. Hujan masih saja terus mengguyur, kami masih sama-sama berteduh walaupun masih belum saling mengenal. Diapun tetap duduk sambil tanganya memegang sesuatu, tampaknya seperti sebuah buku. Saya perhatikan dari jarak yang sedikit jauh, lembar demi lembar dia baca. Ketika saya dekati membuat saya terkesima karena saat berteduh seperti itu dia membaca Alkitab yang dia bawa setiap saat kemanapun pergi.

Sejenak terjadilah dialog di antara kami berdua, sementara menantikan hujan berhenti. Inilah rangkuman pembicaraan kami.

Saya: “Bagaimana mas jualan koranya sejak tadi pagi keluar dari rumah?”
Penjual Koran: “Lumayan pak, sudah terjual satu!”
Saya: “Wah, susah juga ya mas kalau hujan terus begini?”
Penjual Koran: “Tidak juga!”
Saya: “Terus seandainya hujan seharian?”
Penjual Koran: “Itu artinya berkat saya hari ini bukan dari penjualan koran, tapi banyak berdoa!”
Saya: “Lho, kenapa?”
Penjual Koran: “Kitab suci saya mengatakan, mengucapsyukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah!” (sambil menyebut ayatnya dimana tertulis di Alkitab).
Saya: “Lalu bagaimana kalau anda tidak dapat uang?”
Penjual Koran: “Itu berarti berkat saya hari ini bersabar!”
Saya: “Jadi mas kalau tidak bisa beli nasi untuk dimakan?”
Penjual Koran: “Berarti Tuhan menghendaki saya untuk berpuasa!’
Saya: “Kenapa mas bisa berpikir seperti itu?”
Penjual Koran: “Tuhan itu sumber segala berkat, apa saja yang Dia berikan saya syukuri. Selama saya jualan koran, meskipun tidak laku, saya tidak pernah kelaparan bahkan berkekurangan!”

Hujanpun akhirnya reda, si penjaja surat kabar bersiap berjalan untuk berjualan, namun saya masih termenung sejenak ada penyesalan dalam hati. Kenapa jika hujan saya terus gelisah, khawatir tidak dapat uang, takut rumah kebanjiran, merasa sebal macet di jalanan dan lain-lain. Kini kusadari berkat itu bukan uang semata-mata, akan tetapi bisa bersabar, bisa berpuasa, bisa berdoa, bisa beribadah adalah berkat Tuhan juga. Bersyukur ternyata jauh lebih bermakna dari pada uang. Namun semua ini bisa saya alami hanya bila menerima kuk yang ditawarkan Juruselamat setiap saat. Kuperlukan Juruselamat…

Kuperlukan Jurus’lamat, agar jangan ‘ku sesat;
s’lalu harus kurasakan bahwa Tuhanku dekat.
Reff: Maka jiwaku tenang, takkan takut dan enggan
Bila Tuhanku membimbing, ‘ku di malam pun tent’ram.

Mari kita nyanyikan selanjutnya KJ. no. 402, LS. 313.

error: Content is protected !!