Jauhilah Mereka Itu!

Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! 2 Timotius 3:5

Dalam renungan harian kali ini, paling tidak ada tiga hal yang menarik perhatian pada ayat di atas, agar kita mengerti dengan jelas sekaligus menjadikanya pedoman dalam kehidupan. Pertama, peribadatan secara lahiriah. Kelompok ini bisa saja lebih rajin beribadah dari orang-orang lain, memberikan persembahan dengan jumlah yang besar, aktif menjalankan program-program gerejani.  Akan tetapi buah-buah kehidupan sehari-hari tetap mencintai dirinya sendiri, menjadi hamba uang, membual, menyombongkan diri, pemfitnah, berontak terhadap orang tua, tidak tahu berterima kasih, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, dan tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.

Yesus pernah menemplak kelompok seperti ini seperti ditulis dalam, Matius 7:21-23 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.  Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Maka kesimpulan yang dapat kita tarik, bahwa ibadah secara lahiriah ialah mereka yang mendengar Firman Tuhan namun tidak menghidupkanya. Ayat selantjutnya memberi penjelasan untuk itu, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” Ayat 26, 27. Penganut kebaktian secara lahiriah, pada giliranya akan menuai kerusakan besar dalam hidupnya, dimana hal ini telah banyak kita saksikan terjadi menimpa banyak orang.

Bagian kedua ialah perintah yang menyatakan, “jauhilah mereka itu!”

Dalam menyikapi perintah ini semua kita harus berhati-hati agar jangan terjadi salah pengertian. Setiap penganut agama yang taat beribadah harus menjadi sahabat yang baik kepada semua orang di semua lapisan, bahkan berusaha menjembatani tembok-tembok pemisah karena perbedaan. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Maius 5:16. Perbuatan-perbuatan baik dalam hal ini, dianalogikan dengan terang dan harus menyinari orang-orang. Jadi perbuatan-perbuatan baik seseorang yang dihasilkan oleh ketaatan beribadah, perlu dipancarkan menyinari orang lain dengan satu tujuan agar mereka memuliakan Tuhan. Dengan demikian perintah yang mengatakan “jauhilah mereka” bukan berarti menjauhkan diri secara hubungan sosial, akan tetapi yang harus dijauhi adalah sifat-sifat atau pola hidup mereka.

Mari kita menyimak bagian berikut yaitu peribadatan yang memiliki kekuatan. Kristus sendiri  menjelaskan hal ini melalui firman-Nya demikian bunyinya,  “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Matius 7:24,25.

Jika rasanya bagian ini sulit terjadi secara menyeluruh di kalangan setiap umat beragama yang beribadah, mari kita jadikan nyata dalam kehidupan pribadi. Apakah saat-saat tekun berbakti yang saya lakukan menjadikan hidup ini terhindar dari kekacauan. Kemudian kembangkan menjadi pengalaman kehidupan berumah tangga yakni suami, isteri maupun anak-anak. Jika ruang lingkup ini telah menikmatinya sudah cukup sebagai wujud pergumulan tanpa berpengaruh karena melihat orang lain.

Tidak jarang terlintas dalam benak manusia merasa lega dengan perbuatanya yang salah, karena mengetahui tindakan yang sama dilakukan oleh orang lain tokoh agama misalnya. Hal seperti ini adalah perangkap setan. Apapun halnya dalam hidup semuanya ibarat menanam dan menuai. Jika menanam yang baik akan menuai yang baik pula. “Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa.” Amsal 22:8. Mari kita nikmati makna kehidupan beribadah dalam diri pribadi dan hal ini akan melebar ke dalam rumah tangga, masyarakat dan seterusnya. Inilah ibadah yang sejati. Siapa yang menabur benih, akan menuai hasilnya.

error: Content is protected !!