Jaminan Hidup Damai

Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Ibrani 12:14

Penyejuk Jiwa – Ada satu phenomena yang umum didapati di kawasan pemakaman. Hampir semua batu-batu nisan yang ada meski dengan bentuk yang berbeda namun ada kesamaan kalimat yang terukir pada batu nisan tersebut. Kalimat itu ialah, “Rest in Peace (RIP)-Istirahat Dalam Damai.” Bagi anda yang pernah berkunjung ke makam di luar negeri, tetap menemukan pemandangan yang sama. Umumnya orang lebih tertarik mengukir dalam Bahasa Inggeris, walaupun ada juga yang menggunakan Bahasa setempat. Pernahkah anda sama seperti saya merasa tertanya-tanya dalam hati sehubungan dengan kesan ini. Apa latar belakang pengukiran kalimat pendek yang amat bermakna itu di atas pusara seseorang yang telah meninggal? Apakah orang yang meninggal mengerti arti damai, sedangkan Alkitab katakan bahwa mereka yang telah meninggal tidak tahu lagi apa-apa, (Pengkhotbah 9:5). Atau, apakah sesudah meninggal baru bisa damai?

Yang lebih menggelitik lagi, tidak menjadi soal apa penyebab kematian seseorang, jika sudah dikuburkan salib atau batu nisannya selalu bertulisan “rest in peace-istirahat dalam damai.” Saya pernah ikut mengantarkan ke pemakaman anak seorang sahabat. Meninggal akibat perkelahian antar gang, karena memang nakal. Masih segar dalam ingatan saya, kalimat yang sama terukir di batu nisan orang tersebut dengan huruf-huruf yang indah. Bukankah kita akan selalu bertanya, apa sesungguhnya makna tulisan itu? Sudah barang tentu tidak ada yang salah dalam pemakaian kalimat seperti itu di atas batu nisan ataupun salib orang-orang yang telah berbaring di liang kubur. Akan tetapi hendaknya kenyataan itu harus menggiring pemikiran anda dan saya ketika berupaya mencari damai maupun menciptakan damai dalam hidup ini.

Terbukti dari banyaknya image orang masa kini sehubungan dengan penempatan kalimat tersebut, muncul slogan-slogan seperti ini, “Why should we only rest in peace, why don’t we live in peace too – Mengapa harus sesudah mati (rest) baru damai, mengapa tidak damai juga ketika masih hidup. Malahan ada yang lebih ekstrim menulis seperti ini, “Why can’t we live in peace too-Mengapa kita tidak dapat hidup dalam damai juga.” Menurut kelompok ini damai itu seolah-olah “can’t” atau tidak dapat terjadi lagi di masa hidup dengan kata lain itu hanya ada setelah mati. Meskipun ini belumlah universal, namun kita akui bahwa menciptakan hubungan damai ditengah masyarakat sekarang sepertinya sulit dan mahal harganya. Hanya demi sebungkus nasi ditambah sedikit uang, rela meninggalkan pekerjaan untuk melakukan sesuatu yang jelas-jelas merusak perdamaian. Hanya disebabkan iri hati dan kecemburuan, tega menghabisi nyawa orang lain bahkan belahan jiwanya sendiri. Tidak jarang orang-orang yang tinggal bersebelahan rumah atau berhadapan, tidak akrab malah bermusuhan karena perkara-perkara yang sepele. Tembok rumah ibadahpun kelihatannya tidak mampu membendung sifat-sifat itu, sehingga di kalangan sesama umat bisa terjadi pertentangan bahkan perkelahian.

Marilah kita perhatikan bagaimana kitab suci menyajikan formula kehidupan damai dengan amat sederhana dan sesungguhnya amat mudah menyikapinya.

Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka. 1 Tesalonika 4:11,12

Hanya ada empat elemen “damai” yang muzarab menurut firman Tuhan, dengan hasiat yang tidak diragukan. Pertama, hidup tenang. Bukankah semua orang mendambakan ketenangan, namun jangan lupa untuk memperolehnya, urusi persoalan sendiri, jangan pernah mencampuri urusan orang lain, itulah yang kedua. Kemudian yang ketiga, bekerjalah dengan tangan sendiri. Mengapa Alkitab dengan spesifik menasihatkan agar “bekerja dengan tangan sendiri” tidak lain tujuannya agar kita sibuk mengisi waktu yang ada hingga tidak punya kesempatan mencampuri urusan orang lain. Lalu yang terakhir yang menyejukkan, hiduplah dengan sopan di mata semua orang! Mari kita ingat bahwa segi kesopanan ini menyangkut semua aspek moral, apakah itu tutur kata, penampilan, maupun sikap.

Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Roma 13:13. Itulah jaminan hidup damai bersama semua orang, meskipun berdampingan ditengah-tengah keanekaragamam perbedaan.

error: Content is protected !!