Jajak Pendapat

“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Matius 21:28-31.

Penyejuk Jiwa – Ayat ini merupakan cuplikan dari pembicaraan Yesus bersama  murid-murid-Nya. Jika kita baca perikop ini di fasal 21 injil Matius, akan mengetahui lebih jauh bahwa Yesus dalam pengajaran-Nya ketika itu, sengaja lebih banyak mengajukan pertanyaan kepada rasul-rasul. Tentu kitapun tidak salah juga menikmati renungan yang diawali dengan model pengasah otak lebih dahulu, karena cara inipun menjadi salah satu methode untuk mendalami Alkitab. Perlu diingatkan kepada para netizen, dengan menimbulkan pertanyaan dari subjek yang kita baca dari kitab suci, akan menuntun pikiran lebih memahami makna yang ditekankan di dalamanya dan lama tersimpan di memori otak. Kemudian sisi lain yang tidak kalah penting, sadari bahwa Alkitab adalah Firman dari Yang Maha Kuasa, yang tidak boleh dikaji dengan logika. Dan untuk hal seperti itulah akan muncul pertanyaan dalam piikiran mereka yang membaca dengan setia. Mari kita ambil satu ayat sebagai salah satu contoh.

Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Amsal 11:24.

Jika ayat ini tidak menimbulkan pertanyaan pada saat dibaca, tidak akan tertarik memaknai dalam kehidupan. Atau kemungkinan hanya membaca bagai angin lalu, boleh jadi karena sekedar memenuhi tuntutan. Bagaimana mungkin menyebar harta, tetapi bertambah kaya, lalu menghemat secara luar biasa malah berkekurangan. Apalagi mereka yang menggeluti bidang akuntansi akan menertawakan itu. Tidak pernah terjadi saat pendapatan 1 juta, pengeluaran 2 juta lalu didapati saldo 3 juta. Mungkinkah, pikir akuntan. Itulah pertanyaannya bukan! Perlu diingatkan lagi, pada saat membaca Kitab suci dan kemudian muncul petanyaan, mohon!, sekali lagi mohon dengan sangat!, jangan berhenti sampai di situ. Sebab saat anda mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan, berarti setan yang sedang hadir di samping anda berhasil dalam tugasnya. Akan tetapi, apabila semakin penasaran dan terus mendalami, maka pada gilirannya anda akan merasa puas dengan keterangan selanjutnya sebagai jawaban dari pertanyaan yang ada dalam pikiran kita.

Demikian halnya dengan pertanyaan Yesus yang menjadi pokok renungan hari ini. Anggaplah ini sebentuk  renungan sekedar “jajak pendapat” sama dengan judulnya. Sekiranya ini merupakan kuis interaktif di salah satu media sosial ataupun acara-acara rohani lain, “Apakah jawaban anda?” Bukankah hal seperti itu pernah menjadi pengalaman kita saat masih anak-anak, atau sekarang kita alami terhadap anak-anak kita dalam merespon perintah. Bisa saja penerima perintah menyatakan Ya, namun tidak melakukan, tetapi sebaliknya ada yang mengatakan tidak mau, padahal ia melakukan dengan baik. Terlepas dari baik tidaknya respon seperti ini, namun itu sudah terjadi. Yang perlu kita jawab ialah, “Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?”

Ini sesungguhnya masih berkaitan erat dengan konteks pelaku firman seperti diuraikan pada renungan kita kemarin. Begitu banyaknya pemeluk agama, datang beribadah ke gereja memberikan persembahan, berdoa serta bernyanyi memuji Tuhan. Dengan melakukan sebatas itu mereka beranggapan telah menjawab ya, kepada perintah Yesus dan tidak menyadari bahwa sesungguhnya belum melakukan apa-apa. Ini terbukti dari pernyataan Juruselamat sendiri kepada rasul-Nya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kita baca di ayat selanjutnya. Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” Ayat 31,32. Kita masih akan lanjutkan pada renungan berikut, namun inti pelajaran yang Yesus tekankan di sini ialah, hindari kesombongan karena kebenaran doktrin yang dimiliki padahal tidak melakukannya. Bersambung…

error: Content is protected !!