Iman

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Ibrani 11:6.

Penyejuk Jiwa – Para pembaca Alkitab khususnya saat mendalami surat Ibrani fasal 11 ini, akan mengerti makna iman yang sesungguhnya. Di ayat 6 yang kita petik menjadi pokok renungan telah memberi ketegasan, “tanpa  iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.”  Agar lebih menjernihkan pengertian kita masing-masing maka iman itu telah  lebih dulu di definisikan pada ayat pertama, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11:1. Ada sebanyak limabelas (15) orang tokoh iman yang ditulis namanya di sepanjang fasal tersebut sedangkan duabelas (12) yang lain disebut melalui penderitaan mereka dalam mempertahankan iman kepada Allah tanpa menyebut nama. Sebenarnya jumlah itupun baru segelintir nama dari para Abdi Allah yang selalu mempertahankan iman dengan tangguh tidak peduli apapun ancamannya.

Semua mereka belum pernah melihat Allah secara kasad mata, namun tetap yakin Allah itu ada dan mereka mencari Dia dengan sungguh-sungguh. Pada giliranya iman inilah yang akan menerima upah, dan tidak mungkin berkenan kepada Allah jika tidak memiliki iman yang demikian.

Mari kita ambil poin penting yang perlu bagi kehidupan rohani kita melalui prinsip ini. Iman adalah istilah theologi yang sedikit berbeda dengan percaya. Percaya bisa hanya melalui bibir saja sedangkan iman itu hanya kelihatan dari buah kehidupan. Mari kita lihat firman Tuhan memberikan informasi sehubungan dengan itu.

Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Yakobus 2:19.

Perhatikan bagaimana ayat ini menyatakan bahwa setan-setan pun percaya kepada Allah, namun tidak beriman. Mari kita fahami perbedaan ini agar kita jangan sampai terjerumus ke jalur sesat. Hal ini dapat kita lihat lebih jelas melalui satu pengalaman sebagai ilustrasi.

Seorang ibu muda bekerja sebagai pembantu rumah tangga di satu keluarga kaya di ibu kota. Menurut pengakuan keluarga kaya tersebut, belum pernah menemukan pembantu rumah tangga seperti ibu muda itu, sehingga sang majikan sangat menyenangi. Setelah berjalan beberapa waktu karena rasa simpati mereka atas kebaikan pembantu mereka kali ini, keluarga menanyakan sekiranya ada yang perlu mereka bantu di luar dari gajinya secara rutin. Rupanya si ibu muda inipun mengorbankan diri sebagai pembantu karena turut memperjuangkan suaminya sedang berkuliah di salah satu fakultas teknik jurusan sipil di kota itu. Mendengar tawaran sang majikan maka dia menyodorkan bantuan uang kuliah suaminya, agar lebih meringankan beban mereka. Sang majikan sangat antusias mendengar pengalaman itu dan dengan senang hati untuk membantu, apalagi mereka tergolong keluarga berada.

Mengingat suami pembantunya sudah di tingkat terahir jurusan teknik sipil, satu kali si bapak dari majikan memanggil mereka berdua khusus untuk menyodorkan pengerjaan bangunan rumah baru di atas sebidang tanah yang telah lama mereka beli. Pendek cerita semua berjalan baik, semua biaya sesuai dengan perencanaan yang telah diestimasi suami pembantunya, disanggupi oleh majikan sampai akhirnya selesai. Setelah rumah yang dibangun kelihatan rampung, maka satu malam, keluarga majikan memanggil pembantu bersama suaminya untuk beramah tamah diawali dengan makan bersama. Setelah selesai makan, maka berkatalah si bapak majikan sambil memegang kunci rumah yang baru selesai dibangun dan berkata: “Inilah kunci rumah, kalian tempatilah itu, dan rumah itu sengaja dibangun untuk kalian sebagai penghargaan kami atas kebaikan si mbak selama bekerja di rumah ini!”

Setelah mereka menerima dan menempati rumah baru sebagai pemberian tersebut sesuatu yang aneh tejadi. Suami pembantu itu menangis tersedu-sedu di rumah. Ketika isterinya menanyakan mengapa demikian, akhirnya suaminya mengaku bahwa pembangunan rumah itu dia manipulasi konstruksinya, baik di segi campuran semen dan besi-besi betonnya dia tidak mengira bahwa rumah tersebut akan menjadi milik mereka. Calon insinyur itu mengaku terus terang bahwa rumah itu tidak kuat karena biaya pembangunanya dia manipulasi, demi memperoleh uang.

Sering seperti itu pengalaman iman seseorang dengan Tuhan. Ada unsur manipulasi dengan iman yang berpura-pura, padahal kita tidak menyadari upahnya, kita sendiri yang akan menikmati. Bibir sering mengaku beriman kepada Tuhan padahal hati jauh dari pada-Nya.  “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2:26.

error: Content is protected !!