Iman Yang Bergantung Kepada Allah

Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. 1 Korintus 2:5.

Renungan Harian – Masih berkisar pada pembicaraan tentang iman, dengan aplikasinya di sepanjang perjalanan rohani umat Kristiani. Seringkali orang-orang dengan bangganya menyebut dirinya beriman walaupun nyatanya kadang-kala hanya di bibir saja. Untuk menghindari pengakuan seperti ini mari kita menelusuri  sejarah terbentuknya kelompok umat yang kemudian disebut Kristen. Kata “Kristen” yang dalam bahasa Yunani disebut Christianos hanya ditulis tiga kali dalam Alkitab yaitu Kisah 11:26, Kisah 26:28, dan 1 Petrus 4:16.

Kita lihat salah satu di antaranya, Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen. Kisah 11:26. Dengan ayat ini jelaslah bagi kita bahwa “Kristen” dinamakan pertama kali kepada murid-murid Yesus di Antiokhia. Sebagaimana akar kata Kristen berasal dari Christianos (bhs Yunani), maka arti sebenarnya adalah Kristus-Kristus kecil yang kemudian dipopulerkan menjadi  “pengikut Kristus.” Itulah arti “Kristen” sesungguhnya, yakni orang-orang yang menunjukkan kwalitas hidup seperti Kristus. Beginilah firman Tuhan menegaskan, “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” 1Yohanes 2:6

Seiring dengan berjalanya waktu, kini kekristenan kelihatanya telah kehilangan makna idealnya. Banyak orang dengan mudah menyimpulkan, bahwa jika orang aktif keluar masuk gereja, mengenakan kalung salib, menempelkan stiker kutipan ayat Alkitab di kaca mobil, memajang gambar Tuhan Yesus di ruang tamu, itulah orang Kristen sejati. Padahal kita lupa bahwa identitas Kristen sejati harus dibuktikan dengan perilaku hidup sehari-hari yang meneladani Kristus dan mendapat pengakuan dari Tuhan. Dengan demikian Kristen itu bukan sekedar label atau atribut, tetapi identitas yang melekat atau mendarah daging. Semua sikap hidup seperti ini hanya bisa berjalan apabila  iman kristiani bergantung sepenuhnya pada kekuatan Allah.

Mengapa firman Tuhan yang menjadi pokok renungan hari ini mengingatkan agar iman kita jangan bergantung kepada hikmat manusia? Tidak lain karena Allah mengetahui bahwa ini akan menjadi persoalan tersendiri di tengah umat terlebih di akhir zaman. Mari melirik salah satu contoh. Hampir semua gereja secara umum, sering mengkultuskan status sosial seperti kedudukan, pangkat dan kekayaan. Dan ini terjadi bukan saja di kalangan awam, malah lebih menonjol di kalangan para pemimpin. Ini saya tahu karena melihatnya saat melayani. Sudah barang tentu kondisi ini tidak akan mendatangkan kesejukan bagi jiwa.

Mari kita camkan nasihat Yesus pada saat menerobos keadaan seperti ini yang ternyata telah dimulai sejak zaman rasul, “Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: “Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!”, sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: “Berdirilah di sana!” atau: “Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!”, bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat? Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia? Yakobus 2:1-5  Itulah keduniawian yang kini masuk ke dalam gereja, sedangkan gereja pada hakekatnya adalah sekumpulan orang-orang yang dipanggil keluar dari keduniawian. [ἐκκλησίᾳ baca ekklesia].

error: Content is protected !!