Iman Menuju Kesempurnaan

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ibrani 12:2.

Penyejuk Jiwa – Kesaksian dari sekelumit pengalaman ketika saya berpindah-pindah tugas dari satu jemaat ke jemaat yang lain di Ibu Kota. Tentu semua tahu bahwa gereja sebagai bentuk organisasi pasti ada saat secara berkala untuk memilih penatua yang duduk sebagai majelis. Peraturan sudah jelas menggariskan dengan memedomani firman Tuhan seperti terulis di 1 Timotius 3:2-7.

Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.

Inilah nasihat Allah sekaligus menjadi tolok ukur saat memilih orang-orang menjadi penatua, (penilik jemaat) menurut versi Alkitab. Akan tetapi kenyataanya sering momen-momen pemilihan menjadi ajang perbantahan karena lebih banyak oknum-oknum yang duduk sebagai nominating semata-mata hanya mengedepankan kepentingan pribadi, maupun kelompok tanpa memedulikan petunjuk Tuhan.

Memang kita akui adalah sulit untuk mencari orang di kalangan umat beragama sekarang ini seperti  kriteria menurut firman Allah di atas. Akan tetapi inipun adalah sebagai pertanda bahwa umat manusia  telah melupakan Tuhan dan semata-mata terpengaruh akan keadaan manusia secara status sosial tanpa peduli faktor rohani atau iman.

Yesus melalui firman-Nya memberikan jaminan yang pasti. Bilamana melakukan pelayanan dengan mata yang tertuju kepada-Nya, di situlah iman kita bergerak menuju kesempurnaan.

Satu keluarga miskin di India tepatnya di Kalkuta tinggal di pemukiman sederhana dekat stasiun kereta. Sekalipun miskin penuh dengan keterbatasan secara dunia, namun hidup mereka tetap berbahagia karena mempunyai iman yang selalu memandang kepada Yesus. Mata pencaharian keluarga itu hanya menjual jeruk di stasiun, termasuk putranya yang masih duduk di bangku sekolah dasar ikut terlibat setiap hari. Bagi pembaca yang pernah wisata ke India pasti melihat, lazimnya di sana anak-anak yang sebenarnya masih usia dini tetapi harus ikut mencari nafkah. Hal inipun tidak asing lagi bagi kita yang tinggal di Indonesia.

Satu kali saat putranya berlari mengejar kereta yang baru tiba dari kota lain, sambil menjunjung jeruk daganganya di atas tampi. Penumpang kereta dengan berhamburan karena mungkin mengejar pindah kereta ke jurusan lain tidak mempedulikan si anak, bahkan ada yang menabrak sehingga daganganya tumpah berserakan. Tidak sedikit jeruknya yang rusak karena terinjak-injak. Muncullah seorang bapak yang berpakain rapi berusaha menghalangi kerumunan agar tidak menginjak jeruk, sambil ikut memunguti yang bertaburan. Sambil memeluk si anak, kemudian dia bertanya, “Nak, berapa kira-kira harga jeruk yang rusak ini?” Dengan suara terbata-bata si anak menyebutkan satu jumlah nominal.

Serta merta si bapak yang baik hati itu mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan uang kepada si anak melebihi jumlah yang dia sebutkan. Lalu dia pemitan dengan ramah kepada anak yang sebenarnya bagi kebanyakan orang tidak ada manfaatnya. Dengan rasa terharu si anak memeluknya seolah-olah tidak mengijinkan pergi seraya bertanya kepada si bapak dengan keluguanya, “Apakah bapak Yesus?”

Ternyata inilah yang selalu diajarkan ayahnya kepada anak tersebut di rumah bahkan disetiap kesempatan, bahwa Yesus itu murah hati, suka menolong, mengasihi semua orang tanpa memandang muka, dan kita harus selalu beriman kepada-Nya.

Jika inilah yang menjadi dasar iman kita masing-masing maka orang akan melihat Yesus dalam kehidupan kita.

error: Content is protected !!