Iblis Tahu Waktunya Sudah Singkat

Celakalah kamu, hai bumi dan laut!  karena Iblis telah turun kepadamu,  dalam geramnya yang dahsyat,  karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat. Wahyu 12:12

Renungan Harian – Masalah penderitaan pasti menghantui umat manusia seiring dengan perjalanan waktu. Kita melihat orang yang “baik” mengalami tragedy yang besar, sedangkan orang jahat ada yang bebas dari hukuman dalam hidup ini. Beberapa tahun silam terbit sebuah buku yang berjudul “Mengapa Hal-hal buruk Menimpa Orang-orang Baik?” Hal itu adalah merupakan salah satu dari banyak upaya orang-orang selama ribuan tahun untuk mendapatkan jwaban yang memuaskan mengenai masalah. Banyak penulis dan pemikir lain yang telah menulis tentang upaya mereka mencapai kesepakatan menyangkut penderitaan manusia, namun kelihatanya tidak pernah menemukan jawaban yag tepat.

Demikian juga Albert Camus, seorang penulis kelahiran Algeria bergumul dengan pertanyaan tentang penderitaan manusia. Dalam bukunya, The Plague, dia menggunakan satu wabah sebagai metafora untuk penyakit yang membawa penderitaan pada umat manusia. Albert melukiskan suatu kenyataan di mana seorang anak laki-laki, menderita penyakit sampar dan meninggal dunia secara menyedihkan. Sesudah itu seorang pemuka agama, yang menyaksikan kejadian tersebut  berkata kepada seorang dokter yang menangani, “Hal semacam ini memuakkan sebab melampaui pengertian manuisawi kita walaupun mungkin kita terpaksa harus menyukai apa yang tidak kita mengerti. Mendengar perkataan itu sang dokter sangat marah, dan membentak, “Tidak, tidak, saya punya ide yang sangat berbeda dengan  anda tentang menyukai. Sampai pada hari kematianku, saya menolak menyukai satu maksud jahat dimana anak-anak dihukm dengan disiksa.”

Adegan ini mencerminkan sulitnya memperoleh jawaban-jawaban yang masuk akal untuk sesuatu yang tampaknya seakan tidak masuk akal.

Yang lebih menyentuh hati serta mengharukan, Ebiet G. Ade penggubah lagu sekaligus penyanyi kondang dengan warna musik pop balada country, meliris pertanyaan manusia tentang penderitaan dan bencana dengan sangat puitis. Musisi kelahiran 21 April 1954 ini melantunkan sendiri syair lagunya yang sangat memilukan, hingga memaksa manusia bertanya ke mana-mana, “Apa penyebab semua derita dan bencana di dunia ini?” Pada giliranya menurut syair lagunya, Ebiet mengajak pendengar untuk bertanya pada rumput yang bergoyang. Tidak salah juga menyimak sejenak selengkap lirik lagu tersebut yang diberi judul, “Berita Kepada Kawan.”

Perjalanan ini Trasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk disampingku kawan. Banyak cerita Yang mestinya kau saksikan, di tanah kering bebatuan. Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan, hati tergetar menatap kering rerumputan. Perjalanan ini pun seperti jadi saksi, gembala kecil menangis sedih.

Kawan coba dengar apa jawabnya Ketika di kutanya mengapa. Bapak ibunya tlah lama mati, ditelan bencana tanah ini. Sesampainya di laut kukabarkan semuanya, kepada karang kepada ombak kepada matahari. Tetapi semua diam tetapi semua bisu, tinggal aku sendiri terpaku menatap langit. Barangkali di sana ada jawabnya, mengapa di tanahku terjadi bencana.

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.  Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Ketiga tokoh di atas baik penulis maupun musisi, sudah barang tentu mewakili hati semua orang yang selalu bertanya tentang kejadian dunia yang semakin tidak masuk akan dari waktu ke waktu. Apakah orang-orang tua dari anak-anak yang tidak berdosa mati terbunuh di Thailand dengan organ tubuh yang hilang, tidak merasa bertanya atas musibah yang mereka hadapi. Menyaksikan tindak kejahatan yang tidak terperi itu, pasti mereka terpaku menatap ke langit barangkali di sana ada jawabnya. Demikian dengan yang di Samarinda, di Jakarta dan di mana-mana akibat rentetan peristiwa yang diluar kemamuan manusia memikirkanya. Akan tetapi renungan ini mengingatkan anda dan saya agar tidak berputar-putar hanya di lingkaran pertanyaan yang sesungguhnya “pasti ada jawabnya.” Untunglah Ebiet G. Ade pada syair lagunya menyiratkan satu kalimat yang amat fantastis yang mengandung realita Alkitabiah.

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Memang sudah dari sejak awal Tuhan sudah muak melihat kejahatan manusia yang Dia jadikan, demikian firman-Nya mengatakan,

 Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.” Kejadian 6:7

Kinilah saatnya bahwa berbuat dosa-dosa menjadi kebanggan bagi kebanyakan umat manusia seperti disinggung oleh Ebiet dalam lagunya.

“Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” Filipi 3:19

Perhatikan bagaimana firman Tuhan ini dengan jelas mengutarakan sifat-sifat manusia menjelang kiamat dunia. Namun major reason atau penyebab utama dari semua itu ialah, “Setan sedang bekerja dengan geramnya yang dahsyat, karena ia tahu waktunya sudah singkat. Akan tetapi ketahuilah saudaraku, bahwa Setan tidak pernah memaksa siapapun untuk berbuat jahat. Dia hanya berupaya secara optimal, sedangkan di sisi lain ada Allah yang siap sedia memberi kekuatan kepada setiap orang agar menghidari berbuat jahat. Semua terpulang kepada keputusan pribadi lepas pribadi

error: Content is protected !!