Ibadah Yang Tuhan Kehendaki

Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Markus 7:6-9

Penyejuk Jiwa – Berulang kali Yesus menyampaikan teguran kepada bangsa Israel dengan ayat-ayat di atas, baik di zaman Perjanjian Lama melalui nabi Yesaya. Ketika melayani di dunia setelah lahir menjadi manusia Dia hanya mengutip langsung dan menyampaikan kepada orang-oang Yahudi zaman itu. Ini menjadi bukti dari perjalanan rohani umat-umat yang selalu menyatakan beribadah kepada Tuhan padahal yang mereka ikuti adalah tradisi atau adat istiadat manusia. Mengapa kenyataan ini perlu diulangulangi melalui renungan penyejuk jiwa, tidak lain tujuanya, agar kita yang mangaku pengikut Kristus jangan kiranya mengulang motif peribadatan yang sama.

Saya berkeyakinan, meskipun surat Bapak Pdt. Prof. Jan S. Aritonang, Ph.D, ditujukan kepada Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), namun tegoran Yesus inilah yang termaktub dalam surat beliau agar menjadi nasihat bagi umat Kristiani yang membacanya. Mari kita lihat kembali kalimat-kalimat dalam suratnya yang dapat membuktikan, “Atribut-atribut, simbol-simbol, atau hiasan-hiasan itu muncul dari tradisi sebagian gereja, terutama yang di Barat (Eropa dan Amerika), yang kemudian disebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.” Kemudian yang berikut, “Penyebaran, produksi, dan perdagangan benda-benda itu lebih dimotivasi oleh hasrat untuk mendapat keuntungan material; itulah sebabnya orang-orang yang terlibat di dalam aktivitas itu berasal dari berbagai penganut agama. Bahkan boleh jadi orang yang tak beragama pun ikut memproduksi dan memperdagangkannya. Karena itu saya tidak mempersoalkan atau berkeberatan kalau Komisi Fatwa MUI menyatakan bahwa menggunakan, memproduksi, menyebarkan, dan memperdagangkan benda-benda atau atribut itu adalah haram.”

Pada renungan kemarin kita sudah mengungkapkan bahwa cara-cara seperti itu tidak pernah dianjurkan dalam firman Tuhan. Tentu kita harus fair dalam hal ini, agar tidak terkesan mengada ada. Mari kita selidiki bersama, mulai dari kitab Musa hingga Wahyu jika ada kalimat yang mengedepankan tradisi baik itu tata ibadah maupun perayaan dengan mengkultuskan hari atau tanggal. Jangankan dari sisi Alkitab, kajian secara akal sehat saja sebenarnya sudah cukup menerangi pikiran manusia untuk dapat mengerti. Masakan saya menyebut memuliakan Tuhan, padahal symbol-simbol, atribut-atribut, hiasan-hiasan yang digunakan ternyata memperkaya produser dan pedagangnya. Bahkan boleh jadi orang yang tak beragama pun ikut memproduksi dan memperdagangkannya. Yang lebih menggelitik lagi, Tuhan tidak pernah mengajarkan demikian.

Para pembaca yang dikasihi Yesus Kristus, mari kita renungkan hal ini dengan lapang dada dan pikiran yang jernih. Sudah barang tentu tujuannya agar anda dan saya berjalan di rel kebenaran kitab suci lalu kemudian menikmati makna yang dijanjikan. Demikian Allah menyatakan, “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti.” Yesaya 48:18. Luar biasa nikmatnya bukan? Namun rahasianya harus memperhatikan dan memedomani perintah-perintah Tuhan, bukan perintah manusia atau tradisi. Untuk itu mari kita ulang menyimak bagaimana perintah-Nya untuk liturgi-liturgi ibadah yang sejati.

Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia. Yakobus 1:26,27

Yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Yesaya 58:6,7

Justru pelayanan seperti itulah yang sering terabaikan pada bulan Desember karena kesibukan semua umat mengemas segala sesuatu untuk persiapan natal, juga dana keluarga yang banyak diserap oleh kepentingan-kepentingan pribadi.

error: Content is protected !!