Hukum Emas

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 7:12.

Pasti banyak di antara pembaca renungan harian ini, juga para pakar theologia menyebut ayat ini sebagai hukum emas, meskipun Alkitab tidak pernah menyebut demikian. Namun jika direnungkan dalam-dalam sepertinya cukup alasan mengapa orang menggunakan julukan seperti itu. Yang pertama, firman itu sendiri telah memproklamasikan bahwa kalimat sebelumnya adalah, “Isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Hal ini dapat dimengerti dan diterima oleh semua manusia di manapun berada, sekalipun dibedakan oleh berbagai budaya, namun dari sisi “mendapat perlakukan orang lain” pasti sama perasaannya. Inilah yang akan kita lihat lebih detail pada bagian kedua.

Setiap manusia secara rasional memiliki apa yang disebut dengan “common sense” atau perasaan secara umum. Seperti telah kita singgung sedikit pada bagian pertama di atas, adanya unsur-unsur budaya yang  berbeda-beda dikalangan komunitas dunia, bisa itu dikalangan antar suku, antar daerah, meluas ke nusantara bahkan antar bangsa. Dalam hal ini semua kita dapat menyaksikan dan mengalami akan adanya perbedaan antara kultur yang satu dengan yang lain. Akan tetapi jika itu menyangkut dengan common sense (perasaan secara umum) kita berani katakan secara pasti, semua manusia sama. Ambil saja salah satu contoh yang sederhana. Di manapun seseorang tinggal, suku apapun dia, bagaimanapun bentuk  budayanya, pasti merasa senang jika orang lain memperlakukan dia dengan baik. Sebaliknya tidak akan pernah menghendaki siapapun menyakitinya. Ini alami, dan tidak akan pernah diragukan keabsahannya dalam diri semua orang di muka bumi ini.

Hanya dengan dua alasan ini saja sudah cukup menggiring pikiran para pembaca mengakui,  mengapa Matius 7:12 ini disebut sebagai ayat emas. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”  Kalau saja konteks ayat ini menjadi kehidupan setiap insan manusia yang tinggal di bawah kolong langit ini, maka bumi akan menjadi Sorga Dunia. Mudah sekali mempercayainya oleh melihat penerapannya. Demikian mekanisme sosialisasinya, dan harus dimulai dengan diri sendiri. Kita ambil  contoh-contoh sederhana misalnya, saya menghendaki orang menyapa saya dengan ramah ketika lewat dari depan rumahnya. Dengan demikian sayapun hendaknya menyapa orang dengan ramah ketika berpapasan. Saya menghendaki orang lain menolong saya pada saat kesulitan, maka inilah yang mendorong saya untuk menolong orang lain yang mengalami kesulitan.

Kemudian mari kita ke sisi negatip, saya tidak menghendaki harta milik saya dirampas atau dicuri orang maka sayapun jangan merampas atau mencuri milik orang lain. Saya sama sekali tidak menghendaki orang lain menipu saya, dengan keinginan seperti ini maka sayapun tidak akan menipu orang. Masih banyak contoh perilaku lainya, yang dapat dikembangkan namun prinsipnya yang perlu diingat yaitu, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”

Intinya harus dimulai dari diri pribadi kemudian terbentuklah keluarga, meluas ke dalam  kelompok komunitas, organisasi sosial maupun agama. Hasil akhirnya berdirilah satu negara yang terdiri dari  kelompok masyarakat peduli, yang tidak pernah berbuat sesuatu kepada orang lain jika ia tidak menghendaki perbuatan itu dilakukan kepadanya. Inilah rumus kehidupan tenteram, aman dan damai yang disodorkan oleh Firman Tuhan di atas.

Bukankah masuk di akal sehat semua manusia, bahwa dunia ini akan menjadi tempat yang sentosa kalau saja Matius 7:12 menjadi pola hidup anda dan saya. Itulah lingkungan yang tiada saling mengganggu.

error: Content is protected !!