Hidup Tiada Arti Tanpa Tuhan

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4:13-15.

Penyejuk Jiwa – Seorang bapak tua sedang menaiki bus dan pada saat ia menginjakkan kakinya ketangga bus, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh kejalan. Sementara itu pintu tertutup secara otomatis dan bus langsung bergerak, sehingga si bapak tua tidak bisa lagi memungut sepatu yang terlepas tadi. Dengan tenang si bapak tua itu segera melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar lewat jendela. Seorang pemuda yang duduk di sampingnya melihat kejadian itu dan bertanya kepada si bapak tua,  ”Mengapa bapak melemparkan sepatu yang sebelah juga?” Si bapak tua sambil tersenyum menjawab ringan, “Supaya siapapun yg menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya, itu sepatu baru dan bagus!” Jangan sampai sepatuku kehilangan pasangannya. Sepatu adalah pasangan terbaik, coba perhatikan saja

  • Bentuk pasangannya tak persis sama namun serasi.
  • Saat dipakai berjalan, gerakan bisa berbeda tapi tujuannya sama. Kiri-kanan – kiri-kanan!
  • Tak pernah menuntut berganti posisi, namun saling melengkapi. Yang satu loncat, yang lain ikut.
  • Selalu sederajat tak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Satu naik tangga, pasangannya menyusul.
  • Bila yang satu hilang yang lain tak memiliki arti apa-apa sekalipun mahal harganya.

Si anak muda semakin penasaran lalu melanjutkan pertanyaan, “Tapi bapak kok tidak kelihatan susah kehilangan sesuatu, walaupun sepatu bapak berkualitas bagus? Si Bapak tersenyum santai mengatakan,  “Ah, anak muda ketahuilah, harta hanya titipan, nyawa pun hanya pinjaman. Tuhan bisa mengambilnya sewaktu-waktu.”  Jangan lupa anak muda seperti cetusan hati Ayub katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN! Ayub 1:21.

Renungkanlah hal ini anak muda, “Kehilangan tidak bisa dipilih-pilih. Malang pun tak dapat ditolak, dan untung juga tak dapat diraih sekuat tenaga. Bisa kehilangan siapa saja, apa saja  dan kapan saja. Musibah, berkat dan berbuat salah itu pasti kita alami. Syukurnya bagi orang beriman diberikan kekuatan/cara menghadapinya. Mendapat musibah supaya bersabar, kebagian rejeki agar bersyukur dan jika berbuat salah mari segera bertobat.

Ada begitu banyak pesan moral yang dapat ditarik dari percakapan si bapak tua dengan anak muda dalam kisah ini. Mungkin kita akan mengupas tentang sepatu di kesempatan lain. Mari kita fokus kepada kondisi hidup yang sebenarnya, sesuai dengan ayat yang kita angkat menjadi pokok renungan. Si bapak tua saat berangkat dari rumah tidak menduga bahwa dia akan kehilangan sepatu yang dia beli dengan harga mahal. Jangankan sepatu atau jenis materi yang lain, nyawa sendiripun bisa melayang tiba-tiba tanpa disangka-sangka.

Kini pihak peradilan di negeri ini sedang direpotkan menangani sebuah kasus kematian misterius Wayan Mirna Salihin.  Mirna sudah pasti tidak pernah menyangka bahwa kedatanganya ke Cafe Olivier, Grand Indinesia pada 6 Januari 2016 yang lalu akan mengahiri hidupnya. Yang mengundang diapun datang ke sana adalah sahabat karibnya sendiri, bahkan sama-sama berkuliah di luar negeri. Teman akrabnya yang berinisial  JKW itulah yang diduga memasukkan racun sianida kedalam segelas kopi vietnam yang kemudian diminum oleh Mirna tanpa merasa curiga, sehabis itulah nyawanya melayang. Baik sahabat, apalagi musuh, siapa saja bahkan apa saja, bisa mengancam jiwa seseorang secara tiba-tiba di dunia yang berdosa ini. Demikian juga para penumpang pesawat Malaysia Airlines MH370 sebanyak 239 orang pada tragedi yang lalu, sama sekali tidak menduga nasib penerbangan akan mengalami nas. Banyak lagi peristiwa tragis yang lain, jika kita tuliskan satu persatu halaman ini tentu tidak cukup untuk memuat.

Apa yang dinyatakan oleh si bapak tua kepada anak muda di bus tadi, demikianlah hidup. Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi hari esok, bahkan satu menit pun ke depan. Itu sebabnya nasihat Firman Tuhan melalui Rasul Yakobus hendaknya menjadi peringatan bagi anda dan saya, agar disetiap rencana kehidupan, kita selalu berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Kiranya menjadi doa penyerahan kita selalu, “Jangan kehendakku Tuhan, kehendak-Mu jadilah!”

error: Content is protected !!