Hidup Tenang, Urus Persoalan Sendiri, Bekerja Dengan Tangan, Pasti Berhasil!

Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu. I Tesalonika 4:11.

Penyejuk Jiwa – Lee Myung Bak sejak kecil sudah bergelut dengan kekurangan dan kelaparan. Sebagai seorang anak keluarga miskin, jangankan uang jajan, untuk makan sehari-hari pun mereka harus makan ampas gandum. Itupun ia dapatkan dari mengemis di pabrik penyulingan minuman. Boleh dikata Lee dan keluarganya sehariharian memakan “sampah yang sudah selayaknya dibuang.”

Mencoba keluar dari tekanan hidup seperti itu, saat Lee masih di bangku SMA mereka pindah dari Osaka Jepang ke Seoul Korea Selatan. Namun nasib mereka bukannya bertambah baik malahan semakin memburuk. Saat bertumbuh menjadi lebih dewasa Lee harus menjadi pedagang asongan. Walau begitu Lee sadar bahwa dia harus berubah dan jalan menuju ke sana harus bersekolah. Tekadnya begitu membaja untuk menekuni pendidikan hingga ke tingkat yang lebih tinggi.

Atas kegigihan belajarnya, prestasi Lee sangat bagus sekali di SMA, sehingga diterima menjadi mahasiswa di Korea University perguruan tinggi terkemuka di Korsel. Selain berkuliah, Lee tetap harus bekerja sebagai tukang sapu jalan, karena ia harus membiayai kuliahnya sendiri dan membantu menghidupi keluarganya.

Disaat kuliah itulah Lee berkenalan dengan dunia politik. Dia terpilih menjadi anggota dewan mahasiswa dan sering terlibat aksi demo anti pemerintah karena melihat adanya penyimpangan-penyimpangan. Itu sebabnya  Lee ditangkap dan dipenjarakan pada tahun 1964. Akibat pernah mengalami sebagai seorang narapidana, kemudian menjadi sedikit penghalang bagi dia setelah lulus dari kuliah. Melamar di perusahaan Hyundai, namun hampir ditolak dengan  alasan Hyundai khawatir pemerintah akan marah karena menerima pegawai yang pernah di penjara gara-gara menjadi aktivis anti pemerintah.

Akan tetapi jebolan universitas ternama ini memberanikan diri menulis surat kepada pemerintah. Isi suratnya sangat menyentuh hati sekretaris presiden sehingga pemerintah balik menulis surat ke Perusahaan Hyundai agar mau menerima Lee Myung Bak menjadi pegawai.

Saat bekerja di Hyundai, Lee ternyata sangat berprestasi melalui keuletannya bekerja. Ia selalu berhasil menyelesaikan semua masalah yang ditugaskan padanya. Pernah suatu hari Hyundai hendak memproduksi buldozer tetapi menghadapi kendala masalah teknis. Lee berusaha mencari solusi dengan mempreteli semua komponen buldozer merek lain untuk mempelajari cara kerjanya dan akhirnya Hyundai bisa memproduksi buldozer. Atas kepiawaian inilah Lee kemudian dijuluki “buldozer”.

Kemampuan Lee membuat kagum Chung Ju-Yung pendiri Hyundai, sehingga ia diangkat menduduki posisi tertinggi di divisi konstruksi walau ia baru bekerja selama 10 tahun.

Setelah 30 tahun bekerja di Hyundai panggilan hati nuraninya untuk berkecimpung di dunia politik terngiang lagi. Maka pada tahun 1992 Lee masuk ke jalur politik lagi dengan mengajukan diri menjadi anggota dewan. Dari jalur itulah akhirnya Lee Myung Bak terpilih menjadi walikota Seoul pada tahun 2002. Saat menjabat sebagai walikota, dia tetap seorang yang rendah hati dan pekerja keras apalagi mempertahankan kejujuran. Tidak heran jika publik merasa simpati dan kagum atas karakter dan hasil kerja mantan pedagang asongan tersebut. Saat ada pemilihan presiden Korea Selatan, Lee mengajukan diri menjadi salah satu kandidat  pada tahun 2007, dan terpilih menjadi presiden Korea Selatan.

Mari kita petik hikmah dari pengalaman seorang yang menurut estimasi manusia, tidak mungkin seorang pedagang asongan dapat berhasil menjadi Presiden. Benarlah apa yang berulang-ulang dijanjikan oleh Yesus dalam Firman-Nya,  “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Matius 19:26. Untuk meraih cita-cita, hiduplah dengan tenang, urus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan.

error: Content is protected !!