Hawa Nafsu Berahi Yang Tepat Arah

Minumlah air dari kulahmu sendiri, minumlah air dari sumurmu yang membual. Patutkah mata airmu meluap ke luar seperti batang-batang air ke lapangan-lapangan? Biarlah itu menjadi kepunyaanmu sendiri, jangan juga menjadi kepunyaan orang lain. Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu: rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa berahi karena cintanya. Hai anakku, mengapa engkau berahi akan perempuan jalang, dan mendekap dada perempuan asing? Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya. Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri. Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat. Amsal 5:15-21.

Renungan Harian – Inilah penuntun dan sekaligus amaran firman Tuhan yang digubah secara puitis oleh Raja Salomo seorang sastrawan Alkitab yang tidak ada duanya sepanjang sejarah dunia. Nasihat yang hanya terdiri dari tujuh ayat ini, memuat sejuta makna merupakan tembok yang kokoh melindungi peradapan, khususnya dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga bahagia. Kontekstualisasi perikop inipun benar-benar menyoroti semua aspek rumah tangga yang ideal sesuai dengan rencana Khalik sejak awal penciptaan. Mari kita lihat interpretasinya agar memetik hikmah untuk memaknai.

Keluarga diibaratkan seperti sumur pribadi dengan mata air kehidupan yang membual dalam arti berkecukupan. Bukankah secara alamiah Tuhan memberikan air kepada semua makhluk dengan Cuma-Cuma. Walaupun setiap keluarga harus berupaya untuk itu dengan menggali sendiri dan setelah menemukan nikmatilah apa yang sudah kita miliki. Tidak perlu melirik kepada yang lain. Minumlah air dari kulahmu sendiri. “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Ibrani 13:5

Apabila itu diupayakan akan meluaplah sumur-sumur kehidupan maka kehadiran rumah tangga anda dan saya dimanapun berada akan menjadi berkat bagi orang lain, karena “sendang” kita diberkati. (Kata sendang berasal dari bahasa Inggeris fountain yang artinya “air mancur”). Jadi berkat Tuhan akan sampai memancur jika kita mengurusi rumah tangga sendiri dengan tidak membuang-buang waktu mencampuri urusan orang lain.

Bersukacitalah dengan isteri masa mudamu. Simak kalimat ini dengan seksama agar jangan terjadi salah kaprah. Sepintas orang bisa berpikir, berarti sukacita hanya ada ketika isteri masih muda. Inilah yang benar-benar salah kaprah dimana akibatnya akan lebih parah. Tujuan kalimat itu secara tepat arah ialah, umumnya orang menikah pada masa muda. Dengan demikian, biarlah isteri pada masa muda menjadi isteri seterusnya hingga kiamat kecuali maut menjemput. Bukankah lazim terjadi dalam hidup ini, isteri masa muda kemudian menjadi isteri orang lain, demikian halnya dengan suami. Ini terjadi karena masing-masing tidak meminum air dari kulahnya sendiri, coba-coba mencicipi sumur orang lain ahirnya kebablasan. Hati-hati para pembaca, umat Tuhan yang diberkati. Jangan pernah salah kaprah yang berakibat parah, jadilah selalu tepat arah menekuni firman Tuhan baik membaca apalagi  menghidupkan. Bayangkan kehidupan anak-anak yang terlunta-lunta di tengah masyarakat, dan di sisi lain ada menjadi pengacau, karena mereka terlahir di tengah keluarga yang berantakan. Padahal Khalik Pencipta telah memberikan jaminan yang pasti, bilamana meminum air dari kulah sendiri yang dikelola dengan kebersamaan di atas fondasi kasih, “akan diberkatilah sendangmu.” Masih banyak sisi lain dari perikop di atas sebagai tembok pelindung peradaban keluarga, akan kita lihat pada renungan berikut.

error: Content is protected !!