Hawa Nafsu Berahi, Menyangkut Aspek Perzinahan

Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri. Amsal 6:32

Penyejuk Jiwa – Dikalangan para pembaca Alkitab, masih ada kemungkinan salah penafsiran soal perbuatan zinah. Karena firman Tuhan sendiri mengungkapkan perzinahan dengan menggunakan konteks. Bilamana kita membaca kitab nabi Yeremia dan Yehezkiel misalnya, di situ paling banyak menulis kata zinah, akan tetapi merujuk kepada orang-orang atau kelompok yang beralih kepercayaan. Tadinya percaya kepada Allah, namun kemudian menyembah ilah lain sebagaimana lazimnya di kalangan bangsa-bangsa sekitar Israel zaman itu. Inilah satu sisi yang disebut-sebut dengan perzinahan dalam kitab suci yakni peralihan kesetiaan dari Allah yang benar. Namun ada lagi konteks lain dari kata zinah dan untuk itu kita ambil salah satu contoh ayat yang menerangkannya, “Hai isteri yang berzinah, yang memeluk orang-orang lain ganti suaminya sendiri.” Yehezkiel 16:32. Kata memeluk dalam firman ini sudah barang tentu karena disertai hawa nafsu berahi sehingga disebut zinah. Semua orang yang telah menikah dapat mengerti dan merasakan ini lebih mendalam. Jadi dengan ayat ini jelaslah kita ketahui bahwa perbuatan zinah ialah melakukan hubungan yang didorong oleh hawa nafsu berahi dengan seorang yang bukan isteri atau bukan suami. Berarti ujud dari setiap kata zinah di semua firman Tuhan adalah sama, yakni terjadinya sikap ketidaksetiaan satu dengan yang lain, apakah itu antara saya dengan Tuhan atau antar suami isteri. Sebab perbuatan zinah bisa terjadi hanya saat suami atau isteri tidak lagi setia kepada sumpah pernikahan, demikian kepada sumpah baptisan saat menerima Tuhan.

Kemudian mari kita lihat pengembangan lain dalam Alkitab sehubungan dengan ini. Tuhan Allah dari sejak semula hanya merestui pernikahan yang terdiri dari satu suami dan satu isteri.

yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib. Titus 1:6.

Salah satu karakteristik dari orang yang tak bercacat sesuai firman Tuhan adalah, “mempunyai hanya satu isteri”  kemudian disebutkan yang lain, “anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.” Sesungguhnya ayat kitab suci ini telah memuat kandungan satu paket yang dapat dinikmati setiap keluarga. Tipis kemungkinan anak-anak hidup beriman jika orang tua mereka terlibat perzinahan dalam istilah sekarang selingkuh. Saya telah menjalani hidup berumah tangga selama empat puluh tahun dapat merasakan, sedangkan dalam kebersamaan suami isteri kita mengasuh dan mendidik anak masih juga mengalami tantangan. Apalagi dengan status “broken home” rumah tangga yang terpecah-pecah. Seperti kata firman Tuhan, “dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan.” Markus 3:25

Itulah sebabnya pokok renungan kita hari ini menegaskan, Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri. Karena yang menderita akibatnya tidak lain dari suami/isteri bersama dengan belahan jiwa masing-masing. Mari berkomitmen seperti Yosua, ketika dia sebagai pemimpin bangsa menyaksikan kemerosotan moral di kalangan umat akhirnya dia berseru menyodorkan pilihan, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Yosua 24:15.

Poinnya ialah Yosua sanggup berkata, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Semoga anda dan saya berhasil menjadi Yosua modern di zaman yang telah dilanda oleh kemerosotan moral saat ini.

error: Content is protected !!