Hati Menjadi Prioritas

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Matius 5:8                        

Ketika para pengawal membawa Sir Walter Raleigh ke tempat dia akan dieksekusi, sang algojo menanyakan apakah letak kepalanya sudah benar di kayu pancungan. Raleigh menjawab, “Itu tidak penting sahabatku, soal letak kepalaku, asalkan hatikulah yang benar.”

Seperti itu, apabila seseorang yang pergi ke dokter untuk suatu tindakan operasi kaki misalnya, yang pertama diminta oleh dokter adalah memeriksa hati (jantung). Jika ternyata jantung tidak benar, maka dokter akan sarankan tidak ada gunanya memperbaiki kaki. Tanpa jantung yang berfungsi dengan baik, kaki yang paling baik di dunia pun tidak akan bermanfaat bagi orang yang hendak dioperasi. Dalam wilayah fisik, jantung adalah pusat kehidupan. Otot yang satu itulah yang memompa dan menyebarkan darah dalam arti kehidupan ke seluruh bagian tubuh.

Begitulah juga keadaannya dalam wilayah rohani. Penekanan Alkitabiah adalah betapa pentingnya memiliki hati yang benar bersama Allah. Yesus menyatakan berkat-Nya ke atas mereka yang “suci hatinya.” Penting sekali diperhatikan, Dia tidak mempercayakan kepada mereka yang intelektual. Dia tidak mengatakan, seperti apa dan bagaimana beberapa pihak lain akan melakukanya, “Berbahagialah orang yang mengerti doktrin yang benar, karena mereka akan melihat Allah.” Sama sekali tidak pernah menyebut demikian. Fokusnya adalah pada hati.

Nah, menghindari salah tafsir akan  tujuan dari renungan ini, tetap diingatkan bahwa doktrin yang benar itu penting, tetapi bukan itu yang merupakan inti permasalahan. Anda bisa saja mempunyai pengertian doktrinal yang benar namun bersikap lebih culas dari Iblis. Seseorang bisa saja “lurus” segi doktrin, tetapi menjadi kutuk bagi gereja dan suatu gambaran palsu tentang Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, di tengah keluarga dan tempat kerja.

Di dalam Alkitab, hati itu berarti seluruh keadaan batin seseorang. Hati alami mementingkan diri sendiri dan tidak bersih (lihat Yeremia 17:9), tetapi Yesus menghendaki hati yang telah diubah (Roma 12:2;          II Korintus 5:17). Itu penting sekali bagi kehidupan Kristiani, “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, percurian, sumpah palsu dan hujat” (Matius 15:10). Itulah alaminya hati dan Yesus yang mengingatkan atas dasar Kemahatahuan-Nya. Itulah sebabnya manusia kelihatannya, lebih mudah bertindak jahat daripada melakukan yang benar.

Sebagaimana halnya dalam wilayah fisik, inti eksistensi kekristenan adalah hati.  Hati yang benar tehadap Allah dan orang lain, berawal dari pengertian yang benar mengenai doktrin dan merupakan ekspresi yang benar dari iman seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Tanpa  hati nurani yang sehat, anda dan saya secara rohani mati, tidak peduli betapa fasihnya saya mengerti teologi atau seberapa banyak ayat-ayat Alkitab yang dapat saya hafal. Bukankah telah berulang kali kita diingatkan melalui renungan firman Tuhan bahwa akhli-akhli Torat dan orang Farisi  menguasai seluruh doktrin namun mereka hanya mengajarkan tetapi tidak menghidupkan. Apa yang terujud melalui tindakan atau perilaku mereka tidak pernah keluar dari hati yang jernih. Biarlah menjadi doa kita selalu agar Tuhan membantu kita mengatur prioritas dengan benar. Kiranya Rohulkudus menolong kita, agar mau menyerahkan hati ini kepada-Nya. Marilah kita mulai melihat Allah dengan lebih baik hari ini, agar rela menyerahkan hatiku dan hatimu untuk Dia sucikan.                                                                                                                                                                       Orang yang mencintai kesucian hati dan yang manis bicaranya menjadi sahabat raja. Amsal 22:11.

error: Content is protected !!