Hati-Hati Dengan Lidah Organ Vital Berbicara

Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi. Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Yakobus 3:2-10.

Penyejuk Jiwa – Surat Yakobus fasal 3 ini yang terdiri dari 18 ayat, sebenarnya sudah merupakan serangkaian renungan yang cukup lengkap dalam konteks “lidah” sebagai organ tubuh yang mereproduksi kata-kata. Itu sebabnya kita kutip hampir keseluruhan karena memang untaian ayat-ayatnya tersusun secara utuh bagaikan mata rantai yang tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Perhatikan saja bagaimana lidah itu dianalogikan dengan proporsional sehingga dapat dipahami dengan mudah. Sekalipun lidah itu kita akui sebagai anggota tubuh yang multi fungsi namun yang ditekankan melalui perikop ini hanyalah peranannya sebagai alat berbicara. Dan untuk itu kita harus lebih dahulu melakukan experimen pribadi yang sederhana, agar benar-benar menyadari fungsinya. Coba saja anda berbicara tetapi jangan menggerakkan lidah, maka yang keluar hanya suara dan bisa itu dalam bentuk kata-kata, namun tidak dapat dimengerti oleh pendengar. Dengan kata lain setiap seseorang berbicara sudah pasti menggunakan lidah sebagai sarana utama. Dan jika ada keabnormalan lidah maka tidak mungkin dapat berbicara dengan baik alias cadel.

Berbahagialah anda dan saya yang dikaruniai lidah yang sempurna, karena olehnya banyak hal yang kita nikmati. Namun di sisi lain berdoalah kepada Tuhan agar karunia yang ajaib ini jangan senantiasa selalu berfungsi ganda saat kita bersosialisasi di tengah masyarakat. Kita sebut berfungsi ganda sesuai dengan nasihat Alkitab, dimana lidah ini disamakan dengan api. Pada peranan tertentu api memungkinkan  manusia dapat menikmati banyak hal yang menyenangkan dan memuaskan. Semua kita mengalaminya sehari-hari. Namun di sisi lain apipun bisa menjadi malapetaka, yang tidak jarang menelan korban materi dan nyawa manusia. Demikianlah halnya dengan lidah. Ayat renungan hari ini menyebutkan, “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk.” Yakobus 3:10  Tergantung kepada kuasa pengendalian, dan ke arah mana dia dikontrol selalu menuai akibat dan hasil.

Kita sengaja menyodorkan nasihat ini untuk menghubungkannya kepada renungan sebelumnya dimana hasutan, provokasi, fitnah, gossip dan sejenisnya, semua menggunakan kata-kata atau ucapan. Hampir tidak mungkin seorang yang bisu pernah terlibat sebagai provokator. Apakah harus menunggu sampai menderita bisu baru berhenti menyakiti hati orang lain dengan perkataan? “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” Efesus 4:29. Jangan seorang pun di antara kita yang melupakan pernyataan renungan hari ini, bahwa barang siapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

error: Content is protected !!