Hari Depan Yang Penuh Harapan

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Yeremia 29:11

Penyejuk Jiwa – Tidak seorangpun dari antara manusia yang hidup di muka bumi ini mengetahui apa yang akan terjadi di depan. Meskipun para peramal atau para normal tidak akan mampu meramalkan nasib seseorang pada hari yang akan datang. Menurut fakta yang pernah diungkapkan, seorang peramal yang sering-sering ditanyakan tentang nasib seseorang pada hari mendatang, menunjukkan rasio seperti ini, dari sebanyak 193 poin yang pernah diramal paling ada tiga yang benar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apapun yang dikatakan oknum-oknum tertentu tentang hari depan semuanya masih pada tahap tebak-tebakan. Firman Tuhan menyebutkan demikian,

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4:13, 14

Sebagai gambaran dari pernyataan nats firman Tuhan ini, Bits & Pieces menceritakan satu pengalaman yang pernah mereka saksikan.  Ada dua kapal layar di pelabuhan. Yang satu akan segera berangkat mengarungi samudera luas, sedangkan yang satu lagi baru saja masuk ke pelabuhan setelah menyelesaikan pelayaran. Orang-orang bertepuk tangan dan bersuit-suit riuh rendah melepas kapal yang akan berlayar, namun kapal yang barusan memasuki pelabuhan terluput dari perhatian. Seorang bijaksana yang melihat fenomena itu kemudian berkomentar, “Seharusnya kita tidak perlu terlalu bergembira melepas kapal yang akan berlayar karena kita tidak tahu badai dan ombak besar apa yang akan menimpa mereka. Sebaliknya, kita justru harus menyambut kapal yang pulang dengan gegap gempita karena ini adalah bukti kapal itu bisa mengatasi kesulitan di perjalanan dan berhasil mebawa penumpang selamat sampai tujuan.” Bits & Pieces

Apa yang disajikan oleh kedua penulis ternama itu, sungguh memiliki dasar Alkitabiah. Mengapa harus keburu bersukaria untuk sesuatu yang belum pasti. Bukankah lebih baik menundukkan kepala berdoa kepada Yang Maha Kuasa memohon perlindungan-Nya, dan apa yang telah dinikmati jangan lupa mensyukuri.

 Kenyataan seperti itu dialami oleh kapal Titanic yang tercatat sebagai bencana maritim paling mematikan sepanjang sejarah. Titanic adalah sebuah kapal penumpang super Britania Raya yang tenggelam di Samudra Atlantik Utara pada tanggal 15 April 1912 setelah menabrak sebuah gunung es pada pelayaran perdananya dari Southampton, Inggris ke New York City. Titanic merupakan kapal terbesar di dunia pada pelayaran perdananya. Dibangun pada tahun 1909 sampai 1911 oleh galangan kapal Harland and Wolff di Belfast dengan kapasitas sanggup mengangkut 2.224 penumpang.

Saat pelayaran perdananya, penumpang kapal Titanic terdiri dari sejumlah orang terkaya di dunia, serta lebih dari seribu emigran dari Britania Raya, Irlandia, Skandinavia, dan negara-negara lain yang mencari kehidupan baru di Amerika Utara. Bahkan ada beberapa pasangan keluarga kaya yang baru menikah memanfaatkan momen itu berbulan madu. Kapal ini dirancang senyaman dan semewah mungkin, dilengkapi dengan fasilitas gimnasium, kolam renang, perpustakaan, restoran kelas atas dan kabin mewah. Juga memiliki telegraf nirkabel mutakhir yang dioperasikan untuk keperluan penumpang dan operasional kapal. Dilengkapi dengan sistem keamanan yang maju seperti kompartemen kedap air dan pintu kedap air yang bisa dioperasikan dari jarak jauh, hingga mendapat julukan, “The Unsinkable Ship (Kapal ang tidak dapat ditenggelamkan).”

Setelah meninggalkan Southampton pada 10 April 1912, Titanic singgah di Cherbourg, Perancis dan Queenstown (sekarang Cobh), Irlandia sebelum berlayar ke barat menuju New York. Pada tanggal 14 April 1912, empat hari pasca pelayaran, tepatnya 375 mil di selatan Newfoundland, kapal menabrak sebuah gunung es pukul 23:40 waktu setempat. Tabrakan agak menggesek itu, mengakibatkan pelat lambung Titanic melengkung ke dalam di sejumlah tempat di sisi kanan kapal dan mengoyak lima dari enam belas kompartemen kedap airnya. Kapal yang telah dijuluki The Unsinkable Ship itu, akhirnya hanyut di telan Samudra. Orang-orang di air meninggal dalam hitungan menit akibat hipotermia karena bersentuhan dengan samudra yang sangat dingin. Dari sejumlah 2224 penumpang saat itu hanya 710 orang yang dapat diselamatkan. Sudah barang tentu tidak seorang pun korban yang pernah  menduga nasib yang naas akan menimpa mereka. Inilah kenyataan firman Tuhan yang mengingatkan kita semua bahwa hidup ini sama seperti uap sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Pesan spiritualnya ialah berserah kepada Allah kapan saja dan di mana saja, sebab kejadian yang sama dalam cara yang berbeda akan semakin merajalela.

error: Content is protected !!