Gospel atau Gossip?

Teofilus yang mulia, banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita,  seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.  Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu,  supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.  Lukas 1:1-4

Mengawali renungan harian ini tentang penulisan injil Lukas oleh rasul Lukas sendiri, didahului dengan pernyataan yang meyakinkan kepada sahabatnya Teofilus. Rasul dengan latar belakang berpendidikan ini sengaja mengutarakan langkah-langkah proporsional dalam pemberitaan agar ketika diangkat ke permukaan tidak akan ada pihak yang dapat menyangkal kebenarannya. Hal ini sangat dibutuhkan terlebih lagi saat mempublikasikan berbagai peristiwa yang ditujukan sebagai kontrol sosial kepada para pembaca. Memang inilah hakekat dari kitab injil Lukas agar segala peristiwa yang dia catat tentang Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dunia sungguh benar. Tepatlah langkah yang dia buat, yaitu menyelidiki segala peristiwa dengan seksama dari asal mulanya, kemudian mengambil keputusan untuk membukukanya dengan teratur, sesudah itu diberitakan.

Cara inilah seharusnya menjadi parameter dari semua oknum yang bergerak di bidang media sosial agar semua berita yang disampaikan senantiasa menjadi GOSPEL bukan GOSSIP.

Sebelum dilanjutkan mari kita lihat sejenak pengertian dari kedua kata ini agar jelas terlihat perbedaanya. Kata gospel dan gossip secara etimologis (asal usul kata), berasal dari bahasa Inggris dengan arti, gospel-kebenaran mutlak, dan gossip-kabar angin atau pergunjingan. Walaupun masih ada pengertian lain menurut kamus namun tetap berkisar di situ. Inilah yang menjadi tolok ukur sehingga empat injil di Alkitab yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes disebut Gospel, karena penulisnya adalah juga sebagai saksi mata bahkan mereka ikut terlibat di dalamnya. Maka dengan demikian setiap kebenaranya tidak dapat disangkal lagi.

Berbeda halnya dengan keadaan sekarang di saat munculnya alat-alat komunikasi  modern, namun masalah pemberitaan sering menimbulkan persoalan tersendiri yang serius. Kejadian-kejadian yang kadangkala sampai menelan korban, ternyata didapati penyebabnya hanya karena miskomunikasi. Ada oknum tertentu yang senang memunculkan berita negatif tanpa menyelidiki kebenarannya. Anehnya orang-orang itu tidak pernah membayangkan dampaknya di tengah masyarakat dengan pecahnya perang antar RT, antar kampung,  antar golongan bahkan bisa menjadi masalah nasional. Padahal jika dihitung-hitung kerugianlah yang menjadi akibatnya pada semua pihak yang bertikai. Mendingan sekiranya ada sedikit pun keuntungan yang dapat dipetik, ibarat istilah Jakartanya boro-boro. Mari kita renungkan perkara seperti ini dengan kesejukan jiwa dan pikiran yang jernih.

Satu kali seseorang datang menemui Socrates dan berkata, “ada hal penting yang mau saya bicarakan dengan anda perihal muridmu!” Mendengar itu Socrates balik mengatakan, “dari pada kita buang-buang waktu membicarakanya, saya tanyakan dulu tiga pertanyaan kepadamu tentang muridku itu…” Pertama, “apakah anda sudah menyelidiki kebenaran mengenai yang mau kau sampaikan?” Orang itu menjawab, “belum, saya hanya mendengar dari orang lain!”  Kedua, “apakah ada hal yang baik dari apa yang mau kau sampaikan?” kembali orang itu menjawab, “tidak, malahan hal yang buruk!” Dengan mulai lebih lemah lembut lagi, Socrates bertanya untuk ketiga kalinya, “adakah manfaat dari apa yang kau mau tanyakan itu buat saya, buatmu, dan bagi muridku?” Orang itu tidak lagi menjawab, lalu pergi meninggalkan Socrates dengan wajah pucat diliputi rasa malu.

Seringkali kita manusia gemar membicarakan sesuatu tentang orang lain padahal belum tahu apakah itu benar atau tidak. Yang paling mengherankan lagi, semua sadar bahwa melakukan hal sperti itu tidak ada manfaatnya bagiku, bagimu dan bagi orang lain. Malahan kesusahanlah sebagai akibatnya. Tidak jarang persahabatan yang telah dibina dengan akrab dan kedua belah pihak telah menikmati faedahnya, namun kemudian menjadi berantakan akibat termakan gossip. Mari kita menjadi Lukas-Lukas modern, biarlah tiada dusta diantara kita.

Inilah hal-hal yang harus kamu lakukan: Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu. Zakaria 8:16.  Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. Efesus 4:25.

error: Content is protected !!