Doa Bermotif Kesombongan

Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. Yakobus 4:3.

Penyejuk Jiwa – Semua umat Tuhan menyadari bahwa doa adalah elemen penting dalam kehidupan rohani. Para pengkhotbah, penceramah rohani maupun penulis sering menyebutkan doa ini sebagai nafas kerohanian. Ada sebanyak 308 ayat dalam firman Tuhan menulis tentang doa, dengan berbagai konsep yang lengkap dalam hubungan manusia dengan Khalik Pencipta. Seseorang  disebut hidup jika masih bernafas, jikalau tidak berarti sudah mati. Sama halnya dengan kehidupan rohani, jikalau tidak lagi berdoa berarti kerohanianya sudah mati.  Bahkan sering terdengar istilah dikalangan umat, “banyak berdoa banyak kuasa, sedikit berdoa sedikit kuasa, tidak berdoa tidak ada kuasa.” Namun ada hal yang perlu diklarifikasi dalam korelasi doa sebagai nafas kehidupan rohani, agar lebih memahami aplikasinya. Sama halnya saat bernafas ada dua hal yang dilakukan yaitu, “menghirup udara” dan “mengeluarkan udara” yang kita hirup. Dalam bahsa Inggeris dikenal dengan istilah “inhale dan exhale” sebagai proses sekali bernafas. Jika saat bernafas, seseorang yang hidup harus melakukan inhale dan exhale, maka inilah yang diumpamakan sebagai nafas kehidupan rohani yaitu “berdoa” dan “membaca firman.” Kita tidak perlu menentukan yang mana diantara berdoa dan membaca firman sebagai inhale dan/atau exhale, yang penting harus berjalan seimbang baru bisa disebut bernafas. Dan harus ada dua arah yang berlangsung, barulah disebut proses komunikasi yang benar.

Sering kita dapati umat Tuhan menjadi lemah iman, karena berdoa, berdoa dan berdoa tanpa pernah membaca Alkitab. Dan tidak jarang yang datang kepada saya ketika melayani sebagai gembala jemaat dengan mengatakan, “Saya sudah tekun berdoa pendeta, tetapi kelihatannya Tuhan tidak menjawab doa saya!” Giliran saya balik bertanya padanya, “Berapa banyak waktu yang anda gunakan membaca firman Tuhan di celah-celah kerajinan anda berdoa?”  “Hampir tidak pernah” jawabnya. Tidak heran menjadi lemah iman, karena sedang menjalin hubungan yang timpang dengan Allah Yang Maha Pengasih. Ia terus-terusan berbicara kepada Tuhan dalam doa, akan tetapi tidak pernah mendengarkan suara Tuhan berbicara melalui firman-Nya. Kita ambil saja salah satu contoh yang sederhana. Anda dan saya bersahabat dan satu kali kita bertemu. Karena semangatnya saya terus berbicara kepada anda tanpa henti-hentinya dan ketika saya melihat anda akan mengucapkan sesuatu saya lanjutkan lagi. Akhirnya kita berpisah, anda tidak pernah berkesempatan untuk mengucapkan sesuatu, kecuali saling melambaikan tangan mengucapkan, “sampai jumpa!” Apakah itu disebut komunikasi yang serasi, tentu tidak. Hal yang sama sering terjadi dalam hubngan kita dengan Tuhan.

Perlu diingat, setan pun menggoda anda dan saya untuk berdoa dan berdoa namun ia menghalangi kita agar jangan membaca firman Tuhan. Karena dengan demikian kita akan menjadi lemah. Pernahkah anda mengalami saat berencana membaca kitab suci, langsung mulai mengantuk. Padahal masih berencana. Pernah hati ini miris mendengar salah seorang umat Kristen, ngak tahu bercanda atau tidak namun  mengatakan, “kalau susah tidur baca saja Alkitab.” Atau ada saja sisi lain sebagai penghalang misalnya suguhan acara-acara televisi yang lebih menarik perhatian.

Sajian renungan hari ini sesungguhnya masih berupa pendahuluan tentang doa berdasarkan prinsip Alkitab. Oleh karena bagian ini merupakan faktor utama dalam kehidupan beragama, maka kita akan ambil waktu secara berkesinambungan di lain kesempatan. Di sanalah kita mengupas tuntas, sudah barang tentu sesuai dengan koridor-koridor firman Tuhan.

Adapun perkara yang mau kita ambil menjadi pelajaran, masih sehubungan dengan renungan sebelumnya, bahwa salah satu penghalang doa kita sehingga tidak berkenan kepada Allah ialah adanya muatan-muatan kesombongan dan hawa nafsu. Yesus pernah memberikan contoh dengan pengalaman dua orang yang berdoa di bait Allah. Mari kita simak dengan cermat. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Lukas 18:10-13.

Apa pernyataan Yesus tentang cara berdoa kedua orang itu, akan kita bahas pada renungan berikut.

error: Content is protected !!