Doa Bermotif Kesombongan (Bagian II)

“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 18:10-14.

Renungan Harian – Satu kali saya bersama dengan anggota jemaat di undang pada acara syukuran lahirnya seorang putra, di tengah-tengah satu keluarga muda. Tentu sebagaimana lazimnya acara diawali dengan ibadah pengucapan syukur, barulah dilanjutkan dengan ramah tamah. Kebetulan ayah dari putra yang baru lahir itu tidak ikut bersama-sama karena sedang berkuliah di Manila, Filippina disekolahkan oleh perusahaan di mana dia bekerja. Yang menggelitik hati, ketika tiba saatnya doa syafaat yang dipimpin salah seorang hamba Tuhan yang hadir, dan punya hubungan dekat dengan keluarga yang menyelenggarakan acara. Saya kutip langsung dari apa yang saya dengar, salah satu kalimat awal dari doa hamba Tuhan itu mengatakan,  “Tuhan, saya bertemu dengan si…(sambil menyebut nama ayah dari putra yang baru lahir itu) di Manila. Bahkan kami pergi jalan-jalan serta makan-makan di restoran …bla, bla, bla.

Rupa-rupanya dia barusan kembali dari Manila, oleh karena salah seorang anaknya bekerja di sana.    Ada sedikit relevan doa seperti itu dengan doa orang Farisi yang diceritakan oleh Yesus pada ayat renungan di atas. Bukankah Allah yang menjadi tumpuan dari setiap doa, mengetahui segalanya bahkan apa yang ada dalam hati setiap orang. Jangankan yang telah kita lakukan, yang masih akan kita rencanakan pun Dia tahu. Lalu apa kaitan dan keperluannya, kunjungan ke Manila harus diberi tahu kepada Yesus melalui doa, pada hal Dia sudah tahu? Tidak terlalu berlebihan jika kita sebut bahwa tujuan kalimat seperti itu dalam doa, tidak lain agar orang yang hadir tahu kepergianya ke luar negeri. Itulah salah satu contoh doa yang bermuatan kesombongan.

Mari kita simak doa yang diucapkan oleh Farisi sebagaimana diceritakan Yesus kepada anda dan saya. Di dalamnya termaktup semata-mata hanya kesombongan memberitahukan kelebihan-kelebihannya dari pada orang lain. Itupun hanya karena menggunakan ukuran diri sendiri. Memang kita akui bahwa pemungut cukai di zaman Yesus, adalah martabat kehidupan yang amat di benci banyak orang. Bahkan status ini disejajarkan dengan penderita penyakit kusta, sehingga jika mereka terlihat melintas di jalan spontan orang akan mengoceh, najis, najis. Akan tetapi perhatikan doa dari pemungut cukai dalam cerita itu. Sangat singkat, sederhana, namun penuh dengan pengakuan ketidakberdayaan diri di hadapan Tuhan. Berdiri jauh-jauh, bahkan tidak berani menengadah ke langit  lalu berdoa, Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

Dengan penglaman itu Yesus berkata kepadamu dan kepadaku, “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”  Ayat 14. Tentu pemungut cukai lah yang dimaksud Yesus pulang kerumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, sedangkan Farisi tidak. Yesus akhirnya menyimpulkan dengan satu kalimat peringatan, “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Hati-hati saudaraku, jangan sampai dalam doa kitapun terdengar, bahwa kita orang yag meninggikan diri. “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” I Yohanes 2:16.

error: Content is protected !!