Dirham Yang Hilang

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?”  Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: “Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.” Lukas 15:8,9.

Renungan Harian – Ketika Yesus berada di dunia ini melakukan pekerjaan penginjilan, Dia banyak menggunakan perumpamaan pada saat berkhotbah dan mengajar. Paling sedikit ada sekitar 39 perumpamaan yang ditulis termasuk 3 diantaranya terdapat dalam buku Lukas 15. Alasanya mengapa Yesus sering menggunakan perumpamaan dalam pengajaran-Nya, karena orang-orang farisi dan ahli taurat selalu berupaya mencari-cari kesalahan dari apa yang Dia bicarakan. Namun semua perumpamaan di Alkitab tetap merupakan peristiwa-peristiwa yang masuk akal, sesuai dengan arti yang diambil dari bahasa Yunani “parabolen” yaitu dekat di samping. Jadi apa yang diangkat oleh Yesus menjadi perumpamaan dalam pengajaran-Nya adalah merupakan peristiwa-peristiwa yang lazim terjadi di sekitar kita.

Marilah kita lihat perumpamaan “dirham yang hilang” yang di tulis di Lukas 15:8-10. Pada ayat-ayat sebelum dan sesudah perikop ini, diceritakan perumpamaan “domba yang hilang” dan kemudian “anak yang hilang.” Untuk lebih memahami arti ketiga perumpaman ini harus dilihat dulu perbedaan ketiga objek yang hilang. Misalnya  seekor “domba yang hilang” pasti tahu bahwa dia hilang sayangnya tidak tahu jalan pulang, cukup hanya mengembek merindukan pertolongan. Saya mengetahui hal ini karena pernah menjadi gembala domba. Beda dengan ‘’dirham yang hilang” tidak mengetahui bahwa dia hilang apalagi jalan pulang bahkan dirham adalah benda mati. Lalu “anak yang hilang” pasti dia tahu bahwa dia hilang dan tahu juga jalan pulang. Pada setiap akhir dari ketiga perumpamaan ini selalu ada ayat yang diulang-ulangi dengan kalimat yang sama yakni, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” Ayat 7, 10, dan 32.

Dari sinilah kita tahu bahwa ketiga perumpamaan tersebut mengajarkan hal yang sama yaitu anak yang hilang secara rohani dari tengah-tengah keluarga tetapi membutuhkan penanganan yang berbeda untuk membawa mereka kembali dalam arti bertobat. Karena yang menjadi pokok bahasan kita dalam renungan hari ini adalah “dirham yang hilang” mari kita telusuri pengertiannya. Dirham dalam perumpamaan ini hilang di rumah, ini mengumpamakan seorang anak di tengah keluarga dia masih ada di rumah tetapi sesungguhnya dia telah hilang secara rohani. Segala tindak tanduknya sangat merongrong kebahagiaan rumah tangga, bikin pusing kedua orang tua namun dia tetap ada dirumah. Lalu apa yang dilakukan oleh ibunya yang disebut perempuan dalam ayat itu?

Pertama, menyalakan pelita. Saya yakin masih segar dalam ingatan kita pada renungan yang lalu bahwa Firman Tuhan adalah pelita. Nyalakan pelita itu untuk menerangi anak kita setiap saat, ikuti nasihat Musa dalam Ulangan 6:6,7 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Perhatikan rentetan waktu yang harus digunakan untuk menceritakan kepada anak-anak kita.

Asalkan pelita itu masih tetap menyala yakni Firman Tuhan masih menjadi pokok perhatian dalam setiap keluarga, niscaya anak yang hilang itu akan kembali secara rohani. George Barna, pendiri Barna Institute di Amerika yang selalu aktif mengadakan penelitian di kalangan denominasi Kristen mendapati, bahwa keluarga umat kristiani yang masih memberikan perhatian untuk membaca dan menyelidiki Alkitab hanya berkisar 15% (data tahun 2010). Dan trends nya menunjukkan grafik menurun dari tahun ke tahun. Inilah yang menyebabkan terjadinya kemerosotan moral dan spiritual dimana-mana secara universal.

Kedua, ibu itu menyapu rumah. Tindakan ini biasanya dilakukan karena rumah kotor. Di rak-rak buku ada bacaan-bacaan yang kotor, ada vcd, dvd, dan lain sejenisnya yang kotor. Pokoknya apa saja yang ada di rumah yang bisa mengotori pikiran semua anggota keluarga bersihkan dengan cermat, dan akhirnya dirham itu pasti ditemukan. Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: “Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.”

Inilah yang disaksikan oleh Yohanes yang kekasih melalui suratnya yang terakhir di 3 Yohanes 1:4, Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.

error: Content is protected !!