Dimana Saya Berada

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:21-23

Renungan Harian – Ayat renungan hari mengungkapkan aksi dan reaksi sehubungan dengan hasil pengadilan terahkir dunia dimana Yesus bertindak sebagai Hakim yang Adil mengumumkan keputusan. Pada renungan kemarin telah kita lihat bagaimana Dia menyambut orang-orang yang diberkati duduk di sebelah kanan-Nya. Sudah barang tentu ada yang terpaksa diasingkan ke sebelah kiri-Nya, dengan pernyataan yang sama seperti kepada yang di sebelah kanan, demikian Yesus menyatakan.

Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” Matius 25:42-46

Semua umat-umat Tuhan dapat melihat dengan jelas bahwa patokannya tetap sama yakni menyembah Yesus Kristus dan mengasihi Dia, mempersembahkan yang terbaik kepada-Nya dengan cara yang benar. Apa yang dinyatakan firman-Nya sebagai bobot rohani dari kedua belah pihak, yang di kanan maupun yang di kiri, sesungguhnya sederhana saja. Sekecil apapun persembahan syukur yang kita berikan kepada Allah hendaknya dihasilkan oleh kasih sejati dan tepat arah. Ini dapat terlihat dengan jelas sekali dari jawaban Yesus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” Hal yang sama juga dinyatakan kepada yang di sebelah kanan-Nya. “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Perhatikan seorang yang dipeluk oleh Yesus menjadi contoh kepada semua orang di hari penghakiman itu nanti yang dipanggil dari salah seorang “yang paling hina.” Bukankah kehidupan kelompok marginal seperti itu yang sering diabaikan orang. Sangat mudah untuk mencari faktanya. Pada umumnya umat manusia lebih senang menghadiri undangan dari orang-orang kaya, pejabat, ketimbang orang miskin. Bahkan di lingkungan peribadatan pun sering kelas sosial rendahan seperti itu tidak diperhitungkan. Jangankan memikirkan menolong, kadangkala mereka diperlakukan dengan sikap yang menyakitkan hati. Ada lagi sisi lain yang lebih menggelitik, yang sering disebut menysukuri rahmat Tuhan misalnya pesta apakah itu ulang tahun, keberhasilan usaha, atau pendidikan anak di sekolah dan lain-lain, logonya hendak bersyukur kepada si pemberi Rahmat namun ujudnya sangat melenceng. Kontens dari acara yang dikemas lebih didominasi faktor kesombongan yang subjektif dan eksklusif. Tidak terkecuali dalam perayaan hari-hari besar agama.

Menurut perkiraan, saat puncak malam natal, tahun baru, juga hari-hari besar agama-agama, hanya di Indonesia saja pada saat detik-detik yang dianggap puncak, hangus dana ratusan miliyar rupiah untuk petasan dan kembang api. Trends ledakan-ledakannya kelihatan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Itu terus berlansung ibarat roda gila yang berputar dengan digerakkan oleh tradisi. Meskipun pemerintah berupaya untuk melarang, hasilnya tetap nihil. Itu membuktikan bahwa orang-orang tidak pernah membayangkan berapa banyak orang melarat, apakah itu disebabkan bencana alam, penindasan, dan lain-lain dapat tertolong sekiranya uang sebesar itu didonasikan. Jika itu terjadi maka Yesus menyambut kita di penghakiman terakhir nanti dengan mengatakan, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.” Betapa bahagianya berada di sebelah kanan-Nya menikmati kerajaan kekal selama-lamanya.

error: Content is protected !!