Di Pihak Manakah Engkau

Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” Kejadian 3:9

Renungan Harian – Alkitab menerangkan tiga kapasitas kebesaran Allah yaitu, OMNIPRESENT=Maha Hadir, OMNIPOTENT=Maha Kuasa, OMNISCIENSE=Maha Tahu. Setiap orang yang tekun mendalami kitab cuci akan menemukan kenyataan itu melalui berbagai ayat di seluruh lembaran firman Tuhan. Tentu ada banyak aplikasi kehidupan yang dapat menolong manusia unutk selalu enjoy dalam hidup ini, asalkan menyadari terlebih jika meng-imani existensi Allah yang demikian. Untuk itu harus disimak terlebih dahulu bagaimana kitab suci menyatakannya dan kita akan lihat dari uraian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru secara seimbang.

Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apa pun yang mustahil untuk-Mu! Yeremia 32:17

“Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk-Ku? Ayat 27

Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu! Markus 14:36

“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Lukas 1:37.

Keempat ayat di atas ini telah cukup jelas mengungkapkan ketiga kapasitas Allah yang Maha Hadir, Maha Kuasa dan Maha Tahu, meskipun ada ayat-ayat yang secara rinci menyatakannya satu persatu. Jika dirasa perlu, hal itu dapat kita ungkapkan pada bagian-bagian berikut sekalipun itu dapat dilakukan dengan menggunakan konkordansi Alkitab apakah manual apalagi elektronik canggih sekarang. Apa yang hendak kita tekuni di sini hanyalah keteguhan hati anda dan saya terlebih saat kita selalu menyatakan diri sebagai pengikut Yesus Kristus. Itu harus teruji dengan retorika pertanyaan, “di pihak mana kita berada?” Menentukan keberadaan seseorang apakah di pihak Allah atau oknum yang lain tidak perlu dibuktikan dengan menjawabnya secara kata-kata yes or no, ya atau tidak. Jika demikianlah adanya, mudah sekali merespon. Itu sudah secara otomatis terlihat dari perilaku. Bukankah lazim di mata kita saat ini menyaksikan sepasang pengantin saat melangsungkan upacara pernikahan kudus di rumah ibadah, keduanya mengucapkan janji setia pernikahan sehidup semati dengan suara vocal. Nyatanya, usia pernikahan belum seumur jagung sudah cerai. Rasionyapun semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Oleh sebab itu marilah kita lihat lebih jauh, bagaimana kita memutuskan untuk selalu berada di pihak Allah. Perlu kita ingat keberadaan Allah di pihak kita dan kita di pihak Allah adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan sudah merupakan kolaborasi yang menyatu. Mengapa ini kita singgung, berhubung di renungan sebelumnya kita sajikan kenikmatan-kenikmatan yang diperoleh jika Allah ada di pihak kita. Saat ini, kita akan bertanya kepada diri sendiri, di pihak mana kita berada.

Ayat renungan kita hari ini merupakan pertanyaan Allah kepada Adam dan Hawa, hanya beberapa saat setelah mereka melanggar rambu-rambu yang menandakan mereka berada di pihak Khalik Pencipta. Semua kita mengetahui kejadiannya. Setelah Tuhan menciptakan nenek moyang kita itu, ditempatkan-Nya di Taman Eden, sempurna, serba lengkap, damai Alkitab katakan, “sungguh amat baik” Kejadian 1:31. Kecuali di tengah taman itu, Allah menempatkan satu pohon dan melarang mereka menjamah apalagi memakan buahnya. Hanya itu satu-satunya pertanda yang Tuhan buat, dan selama mereka menuruti perintah tersebut cukup menjadi bukti bahwa Adam dan Hawa tetap berada di pihak Allah. Akan tetapi itupun mereka tabrak dan keluar dari zona keberadaan di pihak Allah, memilih untuk berada di pihak ular (setan) yang menggoda mereka. Begitupun Allah dalam kasih sayangnya datang mengunjungi mereka dengan mengharapkan penyesalan seraya berkata, “Dimanakah engkau?” Sebenarnya yang ditanyakan oleh Tuhan ialah, “Dipihak manakah engkau?”

Dari setiap jawaban Adam dan Hawa di Kejadian 3, terungkap kenyataan bahwa mereka telah berketetapan berada di pihak Setan, terbukti dari “sifat menuduh” yang mereka lontarkan, bahkan akhirnya menuduh Allah. Mari kita urut jawaban mereka yang semuanya bermuatan menuduh. Manusia itu (Adam) menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kejadian 3:12. Jawab perempuan itu (Hawa): “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”  Baik Adam maupun hawa tidak mau mengakui kesalahan malah tetap mengkambinghitamkan pihak lain. Apa artinya ini para pembaca? Yang mereka salahkan akhirnya Allah si pemberi. Nyatalah dari sini, bilamana anda dan saya memiliki sifat menuduh orang lain tanpa pernah mengakui kesalahan di hadapan sesama terlebih di hadapan Allah, kita sedang berada di gerbang wilayah Iblis siap untuk masuk meninggalkan zona Allah. Ingat akar kata Iblis (diaboloß) yang artinya penuduh. Selagi masih memiliki sifat menuduh, menyalahkan yang lain, sukar mengakui kesalahan sendiri dan lain sejenisnya, menandakan seseorang berada di pihak Iblis. Jauhilah semua itu!

error: Content is protected !!