Di Kanan dan Di Kiri Yesus

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Matius 25:31-33.

Penyejuk Jiwa – Seorang Pastor Senior yang baru saja dipindahkan untuk menggembalakan jemaat baru, pada hari kebaktian pertama pelayanannya ia menyamar menjadi gelandangan dan berjalan menuju ke gereja yg akan digembalakannya. Jumlah umatnya tidak sedikit, berkisar 2500 orang banyaknya. Pagi itu, ia datang ke gereja 30 menit lebih awal sebagaimana kebiasaannya. Selama 30 menit, ia berjalan keliling mencari tempat duduk, dan berusaha mendekati umat yg mulai berdatangan, tetapi sayang hanya ada 4 orang yang menyapa “say hello” kepadanya. Ia juga mencoba meminta uang recehan kepada umat yang ia temui, namun tidak seorang pun yg mengulurkan tangan memberikan uang recehan.  Tidak lama setelah itu, ia pun maju ke depan dan duduk di kursi paling depan. Segera seorang petugas liturgis mengusir dia dan disuruh duduk di barisan belakang.

Sambil menuju ke belakang, ia menyapa para umat, tetapi banyak mata yang menatapnya degan pandangan sinis sangat merendahkan dan menghakiminya. Gelandangan yang berpakaian lusuh itu duduk mengikuti ibadah dengan tekun hingga selesai. Tibalah saatnya penatua jemaat mengumumkan dan memanggil nama pastor yg baru. Dia berkata kepada seluruh hadirin, “umat yg dikasihi Tuhan, sekarang kami akan memanggil dan mengenalkan pastor kita yg baru.” Mendengar pengumuman tersebut umat pun berdiri sambil bertepuk tangan karena hal pergantian pastor telah diberitahukan pada minggu yang lalu. Tidak lama setelah itu, gelandangan tadi berdiri dan berjalan menuju mimbar. Semua mata terbelalak dan kaget bercampur heran seolah-olah tidak yakin. Pastor Johnson yang menyamar sebagai gelandangan langsung mengambil mikrofon seraya berdiam sejenak di depan podium.

Setelah itu barulah ia berbicara dengan mengutip ayat-ayat firman Tuhan, “Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?  Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Matius 25:34-40

Setelah selesai membacakan kalimat demi kalimat, sang pastor mulai menceritakan pengalaman yang ia rasakan sebagai gelandangan sepanjang pagi di gereja itu. Isak tangis mulai terdengar, banyak umat meneteskan air mata bahkan sampai terisak-isak. Tidak sedikit yg tertunduk malu. Ia mengakhiri sambutannya dgn berkata, “pagi ini, saya menemukan banyak orang berkumpul dalam gereja, tetapi hanya sedikit yg benar-benar murid Yesus. Sambil menoleh kepada khalayak ramai dengan suara lembut bertanya, “Maukah anda menjadi seorang murid Yesus, bukan sekadar menjadi pengikut?

Boleh jadi di antara pembaca ada yang terperangah dengan ilustrasi di atas, ada yang tertegun merenungkan dengan berbagai konotasi dalam benak kita masing-masing. Namun itulah yang akan menjadi kata-kata yang akah Yesus ucapkan nanti pada saat penghakiman terakhir setelah mengambil keputusan mengenai nasib semua orang berdasarkan kehidupan pribadi lepas pribadi. Mari kita buka sejenak Alkitab maka akan mendapati diawal ayat 31 pada Matius fasal 25, sebuah kalimat pendek sebagai kata pengantar, “Penghakiman tarakhir.” Itulah yang menjadi harkat dan hakekat peribadatan umat Kristiani kapan saja dan di mana saja beribadah, ujudnya agar peduli terhadap sesama. Itulah ibadah yang sejati sekaligus menjadi kriteria yang menentukan apakah kita akan ditempatkan di sebelah kanan atau kiri Yesus di hari penghakiman terakhir nanti. Ada hal penting yang harus disimak dalam kata panggilan Yesus kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku” ini berarti bahwa siapa yang beribadah dengan hati yang selalu ingin berbagi dan peduli, mereka itulah yang diberkati oleh Bapa. Yesus yang menegaskan melalui firman-Nya.

error: Content is protected !!