Dengan Iman Bukan Penglihatan

— sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat – 2 Korintus 5:7

Renungan Harian – Kita tidak menyadari betapa banyak diantara kita berjalan dengan penglihatan dan bukan dengan iman. Kita hanya percaya bahkan tergiur dengan hal-hal yang dilihat, namun tidak menghargai janji-janji yang diberikan Tuhan kepada kita dalam firman-Nya. Tidak terkecuali di kalangan orang-orang yang menjalankan ibadah agamanya dengan rajin, banyak yang cenderung berjalan dengan penglihatan bukan dengan iman. Billy Graham, evangelis dunia terkenal, pernah menulis dalam salah satu bukunya, “Ketika Harmagedon” satu peristiwa yang ada relevansinya dengan topik ini.

Di satu gereja umat-umat tekun mengikuti ibadah, dimana pendeta sedang berkhotbah di mimbar. Dengan tidak disangka-sangka tujuh orang kaliber algojo mendorong pintu gereja yang sedang tertutup.  Mereka masuk dengan berpakaian hitam, cadar hitam hanya mata yang terlihat lengkap dengan senjata pedang. Salah seorang menghunus pedangnya seraya berseru dengan nada vokal, membentak orang-orang yang sedang beribadah, “keluar…keluar, jika tidak akan dipenggal,”  katanya dengan suara beringas. Spontan orang-orang pada berlarian keluar dari pintu gereja bahkan ada yang meloncat dari jendela yang terbuka, karena kebetulan tidak dilengkapi teralis. Meskipun dalam situasi yang mencekam seperti itu pendeta yang sedang berkhotbah di mimbar menguatkan umat melalui wejangan yang disampaikan agar tetap tenang berdoa kepada Tuhan dalam iman. Ternyata ada sebanyak 17 (tujuh belas) orang yang bertahan tetap menundukkan kepala sambil berdoa, berserah kepada kehendak Tuhan apapun yang terjadi. Saat itulah ketujuh orang tersebut membuka cadar mereka dengan mengatakan, “teruskan pendeta, teruskan khotbahnya karena kami sudah berhasil mengusir orang-orang munafik dari gereja ini. Mereka hanya beribadah dengan penglihatan bukan dengan iman!”

Menurut kisah itu ada juga dari antara tokoh gereja yang melarikan diri. Tentu hal ini cukup menjadi bukti, bahwa kehadiran di rumah ibadah, bahkan menjadi tokoh gereja, tidak menjadi jaminan iman pada perjalanan rohani. Karena firman Tuhan juga memberikan kriteria dari orang-orang yang beribadah dengan hakekat semestinya, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”  2 Timotius 3:5

Simak pernyataan ini mulai dari ayat pertama 2 Timotius 3, cukup jelas di rinci rupa-rupa kejahatan orang-orang itu seperti, mencintai dirinya sendiri, menjadi hamba uang. Mereka membual dan menyombongkan diri, pemfitnah, berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama padahal mereka berbakti. Tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Dan jangan lupa, perlakuan seperti itu ada di kalangan orang-orang yang beribadah (ayat 5). Itu sebabnya Alkitab dengan tegas mengingatkan anda dan saya, “Jauhilah mereka itu!” Sudah barang tentu yang dimaksud dengan menjauhi, bukanlah memisahkan diri  dari mereka, malahan harus lebih memupuk persahabatan yang lebih akrab dengan tujuan menggiring mereka ke arah yang lebih baik. Yang harus dijauhkan adalah sifat-sifatnya, sekaligus menjaga diri agar tidak terpengaruh. “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.”  2 Korintus 13:5  

 

error: Content is protected !!