Dari Mata Turun Ke Hati (Pikiran)

Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik. Habakuk 1:3,4.

Penyejuk Jiwa – Masih berkisar pada kesan di hati atau pikiran melalui apa yang dilihat. Di zaman nabi Habakuk sudah pasti belum ada televisi dan sejenisnya. Televisi baru ditemukan tahun 1929 oleh John Longie Baird, dengan siaran perdana melalui saluran British Broadcasting Corporation (BBC). Apa yang termaktup dalam doa Habakuk pada ayat renungan di atas bukanlah penglihatan melalui media sosial seperti sekarang, namun itu adalah rentetan peristiwa langsung dengan pandangan mata. Dan itu terjadi di hadapan Habakuk ketika dia dipanggil Tuhan menjadi seorang nabi di kalangan orang Israel.

Habakuk bekerja sebagai seorang nabi antara tahun 650 s/d 600 sebelum tarikh masehi. Kita tahu dari sejarah bahwa pada era tersebut bangsa Israel menghadapi banyak serangan musuh-musuh termasuk dari kerajaan Babilon yang sporadis. Maka bercampur aduklah di depan mata Habakuk menyaksikan tindak kejahatan, aniaya, kekerasan, perbantahan dan pertikaian. Demikian juga pengepungan orang fasik (jahat) terhadap orang benar. Akibat dari seringnya menyaksikan hal seperti itu di depan mata, nabi itu mengaku hilangnya kekuatan hukum dan tidak pernah muncul lagi keadilan.

Inilah gambaran yang relevan masa kini dengan menyaksikan rentetan-rentetan peristiwa yang sama di depan mata sekalipun dalam bentuk adegan di televisi. Mari kita garis bawahi sekali lagi bahwa apa yang kita lihat sangat mempengaruhi pikiran. Dengan kata lain, acara TV mempunyai pengaruh yang besar terhadap pikiran anak-anak.

Jerry Mander, mantan presiden CBS televisi, dalam bukunya “Four Arguments for the Elimination of Television”  menyatakan bahwa televisi kadang-kadang tidak berbohong, tetapi setiap saat iya. Televisi berbohong dalam menggambarkan kehidupan, dalam melaporkan beritanya, dalam solusinya terhadap masalah yang rumit, dan dalam menurunkan derajat nilai-nilai moral yang diterima. Di satu sisi, televisi mensyahkan sikap berprasangka buruk, tidak jujur dan mementingkan diri. Di sisi lain, televisi mengagungkan perbuatan yang tidak wajar dari sex, obat-obat terlarang, minuman keras dan merokok. Mari kita ambil satu contoh sederhana. Sering kita saksikan para akhli kesehatan berbicara di televisi  mengupas tuntas bahaya merokok dengan maksud agar masyarakat menghindarinya. Akan tetapi tidak lama kemudian masih studio televisi yang sama menyiarkan begitu fulgarnya iklan rokok sudah barang tentu memikat hati orang untuk menikmatinya. Bukankah ini termasuk kebohongan seperti disebutkan Jerry Mander. Paling tidak hal ini sungguh perkara yang ironis dan membingungkan bukan!

Dengan demikian yang menjadi kuncinya harus ditangan para orang tua dalam mengawasi anak-anak saat menikmati kerdipan dewa bermata satu (TV) itu. Bagaimanapun juga, perilaku yang menyimpang dari kebenaran yang selalu disaksikan di depan mata, pada giliranya akan mempengaruhi semua dan akan berpengaruh secara luas kepada moralitas, gaya hidup terlebih hubungan kita dengan Tuhan.

Selanjutnya Garbner dan Gross dari Universitas Pennsylvania telah menemukan bahwa orang-orang yang sangat suka menonton televisi mempunyai pendapat yang berbeda tentang dunia dari kenyataan sesungguhnya. Mereka melihat dunia ini lebih berbahaya daripada sebenarnya, dan akibatnya mereka menjadi lebih takut daripada orang-orang yang kurang menonton televisi atau yang tidak sama sekali. Masih banyak lagi dampak yang merugikan dari menonton TV atau media sosial lainya. Waspadalah!

error: Content is protected !!