Damai Di Tengah Suasana Yang Mencekam

Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN:  “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”  Mazmur 91:1, 2

Penyejuk Jiwa – Membaca dan merenungkan topik ini sekilas pintas bisa menyiratkan konotasi ketidakmungkinan dalam diri. Bagaimanakah mungkin menikmati kedamaian di hati saat suasana mencekam? Seolah-olah mustahil di akal manusia, baik itu berdasarkan pengalaman kebanyakan orang. Jika mata rohani kita hanya memandang secara logika, nyatanya demikian. Banyak realita pengalaman membuktikan, manakala terjadi peristiwa yang mengancam nyawa misalnya bencana alam atau kerusuhan, umumnya manusia akan lari terbirit-birit mencari perlindungan. Namun kita tidak boleh lupa bahwa janji-janji Tuhan dalam firman-Nya tidak nyambung jika dikaji berdasarkan logika manusia. Mencari perlindungan saat terjadi bahaya bukan berarti tidak perlu, malah itu harus dilakukan, namun jangan lupa bahwa perlindungan jiwa yang nyaman adalah berlari kepada Tuhan.

Mari kita simak bagaimana ayat selanjutnya menyatakan, “Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang. Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik. Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu,  malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu.” Ayat 4-9

Jaminan  yang terkandung pada perikop di atas ini, telah menginspirasi para abdi Allah sepanjang zaman baik mereka yang dicatat di Alkitab misalnya Daniel dengan tiga sahabatnya, Yusuf, Paulus dll, demikian juga yang di luar catatan Alkitab seperti Marti Luther, John Huss, Nommensen dan lain-lain. Dengan menelusuri riwayat perjuangan mereka menegakkan kebenaran dipenuhi oleh tantangan yang mengancam nyawa namun catatan sejarah mengutarakan bahwa mereka tidak pernah goyah karena menjadikan Tuhan tempat perlindungan. Kita ambil satu contoh Martin Luther bertepatan dengan momen memperingati 500 tahun masa reformasi yang dia gulirkan, dimana dunia Kristen telah mengadakan rekonsiliasi atau penyatuan damai seluruh dunia. Meskipun ketika itu telah dikeluarkan surat perintah untuk menangkap Luther “dalam keadaan hidup atau mati” bahkan akan diberi apresiasi bagi siapa yang berhasil menjeratnya, namun hamba Tuhan itu pantang menyerah. Saya berkeyakinan Martin Luther berpegang teguh kepada janji Yang Maha Kuasa seperti termaktup dalam ayat renungan ini, siapa yang menjadikan Tuhan tempat perlindungan, Yang Mahatinggi sebagai tempat perteduhan,  maka malapetaka tidak akan menimpa, dan tulah tidak akan mendekat kepada.

Memang, Tuhan tidak pernah menjanjikan kepada pengikut-Nya yang setia sekalipun, tidak akan menghadapi beban kesulitan. Yang Dia janjikan ialah, bilamana beban menimpa seseorang yang setia kepada Tuhan Yesus Kristus maka Dia akan datang bersama-sama memikul beban yang berat itu sehingga menjadi ringan. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Matius 11: 28-30

 

error: Content is protected !!