Cinta Uang Bukan Uang

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. I Timotius 6:10

Penyejuk Jiwa – Menindak lanjuti penelusuran Alkitab dalam tuntunanya mencari kebahagiaan, kita akan melihat sisi lain bagaimana Firman Tuhan menerangkan lebih fokus. Namun sebelumnya kita akan melihat hasil sebuah survei yang pernah diadakan oleh seorang pakar konsultan rumah tangga di Amerika Serikat benama Zachary Green. Dia mengadakan penelitian dengan menyebarkan questioner secara acak kepada 2000 responden dengan status sosial yang bervariasi supaya mendapatkan hasil yang lebih akurat. Tempat tinggal pun dia pilih bukan hanya di benua Amerika tetapi tersebar ke beberapa negara di dunia agar mencakup kultur yang berbeda-beda. Pertanyaanpun hanya terdiri dari satu item, dimana Zachary ingin mengetahui, “apa penyebab utama pemicu permasalahan di setiap rumah tangga.”  Dari 2000 responden ternyata ada sebanyak 1870 mengembalikan questioner dengan jawaban masing-masing sesuai dengan apa yang mereka alami. Setelah semua jawaban direkapitulasi maka didapati bahwa ada 11 perkara penyebab masalah di rumah tangga, dan yang menduduki peringkat pertama ialah uang dengan porsi 72%.

Mari kita padukan hasil penelitian ini dengan apa yang dinyatakan oleh Firman Tuhan. Sedikit harus diluruskan pernyataanya supaya jangan menimbulkan salah pengertian, karena Alkitab selalu menjadi sumber nasihat yang tidak pernah salah. Bukan uang yang salah. Banyak perkara yang memudahkan segala pergerakan hidup ini dengan adanya uang. Termasuk hal-hal yang menyangkut dengan usaha pengembangan kerohanian misalnya ibadah, memerlukan uang. Membangun rumah ibadah perlu uang. Itulah sebabnya Alkitab dengan cermat menulis, “akar segala kejahatan ialah cinta uang.” Dengan demikian, jika sebanyak 72% menyebutkan uang penyebab masalah bukan uangnya yang salah akan tetapi bagaimana menyikapi atau mengaturnya. Itu yang amat penting! Mari kita lihat melalui salah satu contoh yang lazim terjadi di tengah masyarakat masa kini.

Sebut saja satu rumah tangga A, mulai punya uang dan saat yang sama tambahlah ini, tambah itu termasuk suami tambah lagi isteri, terdorong oleh emosi isteri  selingkuh, akibatnya anak-anak menduduki predikat broken home, dan lain sebagainya yang fatal dan memalukan. Katahuan pula di hari kemudian bahwa pertambahan uang itu adalah dari hasil yang tidak wajar. Apakah ada yang salah dengan uang dalam hal ini? Sama sekali tidak. Buktinya ada keluarga B, yang memiliki lebih banyak uang dan memanfaatkanya untuk membawa semua keluarga menikmati liburan saat-saat tertentu, dengan tujuan semakin mejaga keutuhan rumah tangga, dan di celah-celah kebahagiaan tersebut mereka menyisihkan pendapatan membantu pekerjaan Tuhan, termasuk meringankan beban orang lain yang ditimpa kesulitan.  Maka semakin sempurnalah sukacitanya.

Melalui contoh kehidupan nyata seperti ini jelaslah bagi kita hakekat Firman Tuhan, agar manusia ciptaan-Nya menghindari sikap cinta uang dan memburu uang, karena itu sering menyebabkan penyimpangan iman, yang akhirnya menyiksa diri sendiri dengan berbagai-bagai duka.  Pada bagian berikut renungan ini, kita akan melihat bagaimana  Alkitab memberikan pernyataan lebih rinci bahwa uang tentunya masalah penting bagi Allah. Namun Dia tidak ingin kita mengkhawatirkanya. Dia ingin kita percaya pada-Nya untuk memenuhi keperluan kita. Percayalah, percayalah, percayalah!

error: Content is protected !!