Bukan Sesat Namun Kurang Pengarahan

Jawab Yesus kepada mereka: “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Markus 12:24.

Renungan Harian – Satu kali seorang pemuda sedang mengenderai mobil menelusuri jalan di Ibukota, mencari alamat yang diperlukan. Dia telah memegang catatan tempat yang akan dituju namun berputar-putar sana sini belum kunjung ketemu sasaran. Merasa sepertinya telah kesasar dia berhenti untuk bertanya. Kebetulan ada seorang pria berdiri di pinggir jalan, langsung dia hampiri dan berkata, “Tolong saya pak, saya sudah sesat, di mana kira-kira alamat ini?” (sambil menunjukkan alamat yang dia cari). Pemuda itu sedikit kaget karena pria yang dia rasa akan membantu  malah bertanya, “Anak muda, apakah anda tahu dimana sekarang sedang berada?” Saya tahu pak, karena saya melihat rambu tadi di belakang, jawab pemuda itu. Lalu apakah kamu tahu juga kemana akan pergi, tanya pria itu lagi! Dengan sedikit rasa jengkel pemuda itu menjawab, “Ya tahulah pak, makanya bertanya karena merasa saya sesat!” Dengan tenang dan nada yang lembut si pria berkata, “Anak muda, anda bukan sesat, hanya kurang pengarahan saja!”

Apa yang dialami pemuda ini cukup jelas menggambarkan kehidupan orang-oang yang berpegang dan percaya kepada Yesus melalui Firman-Nya. Inilah topik yang kesepuluh disajikan secara berurutan melalui renungan ini, perihal Kitab Suci sebagai buku penuntun atau rambu-rambu perjalanan rohani kekristenan. Kadangkala kita sesat dan jika demikian, akibatnya tidak akan pernah tiba ditujuan. Yesus dengan tegas mendefinisikan apa itu “sesat.”

Jawab Yesus kepada mereka: “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah.”  Markus 12:24. Berarti “sesat” dalam perjalanan rohani karena tidak mengerti Kitab Suci!

Harus tetap segar dalam ingatan kita bagaimana sistematika Alkitab menjadi buku panduan (directory) dalam perjalanan rohani pengikut Yesus yang disebut Kristen. Kristus sendiri yang berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14:6.

Semua orang pasti tahu bahwa setiap melakukan serangkaian perjalanan harus ada petunjuk. Namun selengkap apapun petunjuk yang kita miliki jika tidak dipahami atau dimengerti tetap akan sesat. Mungkin kita sekalian amat femiliar dengan adanya alat-alat penuntun perjalanan canggih sekarang ini seperti GPS, Waze dan lain sejenisnya. Inipun mempunyai syarat harus dimengerti, misalnya alat ini pada umumnya masih menggunakan Bahasa Inggris. Bukankah harus ada juga upaya untuk memahaminya, supaya jangan salah kaprah sehingga menjadi salah arah. Demikian halnya dengan Alkitab, Firman Tuhan, Kitab Suci, penuntun perjalanan rohani.

Lebih meyakinkan dan menyejukkan Firman-Nya menyatakan, Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: “Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya,” entah kamu menganan atau mengiri. Yesaya 30:20,21.

Tuhan senantiasa menuntun Umat-Nya yang selalu setia menyelidiki Kitab Suci, agar umat kesayangan-Nya jangan sampai tersesat. Dialah yang mengarahkan kita kejalan yang benar melalui Firman Kebenaran-Nya, apalagi saat kita duduk membaca menyelidiki, merenungkan kemudian menghidupkan. Itulah sebabnya Ayub selalu berdoa, “Ajarilah aku, maka aku akan diam; dan tunjukkan kepadaku dalam hal apa aku tersesat.” Ayub 6:24.

SEMOGA INI MENJADI USAHA DAN DOA KITA SEMUA!

error: Content is protected !!