Bersykur Yang Benar

Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Markus 1:42-44

Penyejuk Jiwa – Di seluruh lembaran Alkitab ada sebanyak 185 ayat yang menulis perlunya bersyukur. Dan semua menyatakan bahwa arah dari setiap pengucapan syukur ialah kepada Allah yang memberikan segalanya. Mengapa ini perlu ditegaskan karena acap kali dalam kehidupan ini adanya satu niat pengucapan syukur kepada Tuhan namun kemudian melenceng hingga mendukakan hati-Nya. Ini dapat dilihat melalui salah satu contoh dari sekian banyak pengalaman yang terjadi masa kini.

Saya pernah menghadiri undangan pengucapan syukur merayakan ulang tahun seseorang yang kelimapuluh tahun. Diadakan di salah satu hotel berbintang lima, yang telah didekor sedemikian rupa bernuansa modern dengan penempatan lampu-lampu hias yang indah. Sesuai dengan himbauan yang tertera dalam kertas undangan semua hadirin memaki jas lengkap bagi pria, dan gaun malam bagi kaum perempuan. Hanya untuk biaya akomodasi saja termasuk ornamen-ornamenya diperkirakan menelan biaya sekitar lima ratus juta, belum termasuk dengan makanan plus minuman beralkohol yang tersedia dengan melimpah ruah. Demikian juga kehadiran artis-artis yang sudah punya nama sengaja dibayar untuk memeriahkan acara. Memang, keseluruhan acara diawali dengan ibadah, berikut kesaksian dari pihak yang merayakan ulang tahun bagaimana berkat Tuhan yang dia nikmati hingga memungkinkan penyelenggaraan acara seperti itu. Ditambah lagi dengan kalimat-kalimat MC professional yang diundang khusus sekaligus memperkenalkan CEO dari perusahaan bergengsi sebagai tempat yang berulang tahun bekerja.

Sejauh saya mengikuti dengan tekun, sepanjang jalanya acara baik itu ibadah, kesaksian, apalagi setelah masuk di sessi enterteimen keseluruhannya lebih didominasi oleh unsur kesombongan dan penonjolan diri semata. Durasi ibadah berjalan sekitar satu jam yang berakhir pukul 20.00 malam, namun entertaimen berlangsung hingga pukul 00 tengah malam dengan menari-nari sambil meneguk minuman beralkohol.

Dijauhkan Tuhan kiranya adanya unsur menghakimi melalui renungan ini. Tujuanya hanya menggiring pikiran anda dan saya bagaimana sesungguhnya mengucap syukur yang sebenarnya menurut firman Tuhan agar ujudnya tepat arah dan jangan salah kaprah. Saya berkeyakinan bahwa diantara pembaca pasti ada yang pernah menghadiri acara sepeti itu. Jika demikian warna pengucapansyukur yang dijalankan, dimana posisi Tuhan sebagai ujud dari rasa bersukur kepada-Nya.

Keteladan untuk bersyukur yang sebenarnya banyak dicatat dalam Alkitab melalui kehidupan Yesus. Untuk lebih memahami prisnsipnya, telusuri pengalaman seorang berpenyakit kusta yang pernah datang kepada-Nya memohon kesembuhan seperti dituliskan oleh Markus 1.

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Markus 1:40-42

Pada ayat selanjutnya Yesus menunjukkan perilaku, bagaimana prinsip bersyukur yang sebenarnya atas apa yang diniikmati setiap orang dari tangan-Nya. Itulah yang kita petik sebagai pokok renungan hari ini.

 Segera Ia (Yesus) menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Ayat 43, 44

Menurut catatan Markus, Yesus memberikan peringatan keras kepada orang yang telah Dia sembuhkan. Sengaja disebut “peringatan keras” karena itu menyangkut dengan prinsip bersyukur yaitu, “jangan memberitahukan, dengan kata lain jangan menceritakan, tetapi perlihatkan. Kemudian yang lebih utama lagi, berikan persembahan syukur kepada Tuhan sudah barang tentu melalui imam-imam yang bekerja di rumah-Nya. Tidak perlu terlalu banyak menceritakan kepada orang lain, apalagi jika momen menceritakan itu harus mengeluarkan biaya yang sangat besar bahkan sampai miliyaran rupiah seperti upacara yang pernah saya hadiri. Bayangkan sekiranya dana sebesar itu didonasikan untuk membangun rumah-rumah ibadah di kampung halaman sana yang kita akui masih banyak yang terdiri dari kondisi yang sangat sederhana. Apalagi membantu orang-orang yang hidup perihatin sambil memperkenalkan Juruselamat kepada mereka. Inilah yang dilakukan oleh Yesus menjadi teladan bagi para pengikut-Nya bagaimana bersyukur yang dikehendaki Allah, yang kelak mendatangkan bahagaia. Bukan karena bahagia maka bersyukur, namun karena bersyukurlah kita berbahagia, demikian firman Tuhan.

error: Content is protected !!