Berkat-Berkat Melalui Khotbah Di Atas Bukit

Penyejuk Jiwa – Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” Matius 5:1-12.

Jika kita membaca ayat ini dalam Alkitab diawali dengan satu kalimat pendahuluan yaitu, “Khotbah di atas bukit.” Dan itu mencakup fasal 5-7 kitab injil Matius. Berarti ketiga fasal ini merupakan materi khotbah-khotbah Yesus di atas sebuah bukit dalam seri kebaktian kebangunan rohani (KKR) ketika itu. Ibarat catatan seorang wartawan dari hasil liputan langsung suatu peristiwa, demikianlah Matius membukukan selengkap ceramah yang disajikan oleh Yesus karena dia sendiripun sebagai salah seorang rasul selalu dengan rajin mendengarkan.

Ada hal yang menarik dalam beberapa pernyataan Yesus sehubungan dengan kebahagiaan, dan bisa saja sebagian orang merasa hal ini tidak mungkin. Bagaimanakah caranya sehingga orang yang miskin, yang berdukacita, yang teraniaya dan difitnah dapat berbahagia? Jawabnya adalah sangat mudah yaitu jika hal itu menimpa diri kita karena kesetiaan kepada Allah pasti hasilnya bahagia. Itu yang dinyatakan Yesus pada kata-kata bahagia di atas dan Jika Dia yang katakan jangan pernah meragukanya. Disinilah kita sebagai umat Tuhan perlu bergumul sampai tingkat kerohanian kita berada pada level itu. Mari kita ambil salah satu contoh. Sering ada julukan khususnya kepada umat Kristiani sebagai “kafir” padahal sumbernya dari penganut agama yang juga menyembah Allah. Pada saat anda dan saya menjadi sasaran fitnah seperti ini, tidak perlu merasa gusar apalagi sakit hati. Sebaliknya jika kita mengusap dada dan bersabar menanggungnya disitulah kita berbahagia. Yesus dalam khotbah tersebut selalu mengingatkan kita kepada nabi-nabi terdahulu mengalami hal yang sama, bahkan Yesus sendiri mati disiksa. Namun karena semua itu tidak pernah menggoyahkan iman, akhirnya mahkota kehidupan tersedia bagi mereka.

Kata bahagia pada ayat-ayat di atas sebenarnya berasal dari bahasa Yunani μακάριος (baca makarios), yang artinya bergembira. Maka sempurnalah kesehatan kita bilamana tidak pernah terganggu oleh celaan, fitnahan bahkan aniaya yang kita hadapi karena kesetiaan kepada Yesus Kristus. Hati yang gembira aalah obat yang manjur. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.

error: Content is protected !!