Berjalan Dengan Iman Bukan Penglihatan

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Ibrani 11:1.
Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. 2 Korintus 13:5.

Iman adalah bahasa theologi, namun saya yakin semua umat beragama pasti mengetahui artinya. Namun demikian perlu kiranya mempersatukan pengertian kita bersama, sehingga kedua ayat renungan harian kali ini memberikan penjelasan yang sesungguhnya. Karena tidak jarang kita mendengar melalui seseorang yang bersaksi memiliki iman tetapi tidak didukung dengan bukti-bukti dalam kehidupanya. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan agar masing-masing harus menguji diri sendiri, apakah tegak berdiri dalam iman. Bayangkan dengan sangat spektakular Yesus memberi gambaran, “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”  Matius 17:20.  Dua kali Yesus memberikan analogi seperti ini dengan perbandingan yang berbeda. “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” Lukas 17:6.

Anda dan saya pasti familiar dengan biji sesawi. Namun siapa tahu di antara pembaca belum pernah melihatnya, Yesus juga memperkenalkan sekilas dalam injil  Matius  13:32. “Memang biji sesawi itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”  Jadi nyatanya biji sesawi itu adalah yang paling kecil dari segala jenis biji. Akan tetapi sekiranya saya memiliki iman sebesar biji yang terkecilpun, akan dapat memerintahkan gunung pindah ke laut. Apakah para pembaca yang merasa memiiliki iman tidak pernah penasaran dengan tantangan ini, sehingga terdorong untuk pergi ke satu gunung lalu memerintahkanya agar pindah ke laut? Sebab jika tidak demikian, berarti kamu tidak tahan uji. Demikian firman Tuhan katakan.

Walaupun mungkin para pembaca sedikit merasa tergelitik, namun saya mengakui pernah melakukanya. Dengan percaya diri punya iman jika hanya sebiji sesawi, lalu pergi kesatu gunung dan dengan suara nyaring saya memerintahkan gunung itu supaya pindah. Dan benar…gunungnya tidak mau pindah. Kemudian saya bertanya kepada Tuhan sudah barang tentu melalui doa dan pendalaman firman-Nya, akhirnya menemukan jawaban. Ternyata gunung yang dimaksudkan Yesus adalah puncak-puncak persoalan dalam hidup kita, dan pohon-pohon ara yang tidak berbuah sebagai gambaran diri kita yang tidak berani menyaksikan Yesus kepada orang-orang yang belum mengenal Dia. Semua itu akan teratasi asalkan memiliki iman sebesar biji sesawi.

Yang sering terjadi dalam kehidupan kita sehingga selalu menghadapi masalah yang kian hari semakin menggunung, tidak lain karena berjalan dengan penglihatan bukan dengan iman. Tatkala persoalan menerpa misalnya penyakit serius kita lupa mengimani bahwa di balik awan sana ada Allah yang selalu sedia  untuk menolong. Kita lebih cenderung bersandar kepada kekuatan diri sendiri. Berhubung iman ini adalah dasar utama kehidupan beragama kita, maka selanjutnya akan kita telusuri melalui contoh-contoh kehidupan, baik dari pengalaman abdi-abdi Allah yang ditulis dalam firman-Nya maupun pengalaman orang beriman di luar Alkitab yang akan disajikan pada renungan-renungan selanjutnya.

error: Content is protected !!