Berdiam Diri Dan Tenang

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Yesaya 30:15.

Renungan Harian – Nabi yang dipanggil Tuhan melayani ditengah-tengah bangsa Yehuda pada masa pemerintahan Hizkia ialah Yesaya. Tuhan  memerintahkan nabi yang gagah berani itu berulang-ulang mencanangkan  kepada bangsa itu agar bertobat dan tinggal diam, kemudian tinggal tenang dan percaya. Mendengar seruan inilah maka Raja Hizkia tetap merasa optimis menjalankan pemerintahannya dengan mengandalkan Tuhan setiap saat. Itulah sebabnya ketika surat ancaman Sanherib dia baca, yang dilakukan pertama kali membentangkan semua di hadapan Tuhan melalui doa. Setelah raja melakukan sesuai perintah Ilahi barulah dia mengirim utusan kepada Yesaya untuk mengetahui apa jawaban Tuhan.

Lalu Yesaya bin Amos menyuruh orang kepada Hizkia mengatakan: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Apa yang telah kau doakan kepada-Ku mengenai Sanherib, raja Asyur, telah Kudengar. Inilah firman yang telah diucapkan TUHAN mengenai dia: Anak dara, yaitu puteri Sion, telah menghina engkau, telah mengolok-olokkan engkau; dan puteri Yerusalem telah geleng-geleng kepala di belakangmu. Sebab itu beginilah firman TUHAN mengenai raja Asyur: Ia tidak akan masuk ke kota ini dan tidak akan menembakkan panah ke sana; juga ia tidak akan mendatanginya dengan perisai dan tidak akan menimbun tanah menjadi tembok untuk mengepungnya. Melalui jalan, dari mana ia datang, ia akan pulang, tetapi ke kota ini ia tidak akan masuk, demikianlah firman TUHAN. Dan Aku akan memagari kota ini untuk menyelamatkannya, oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku.” Ini dapat kita baca di 2 Raja-raja 19:20,21; 32-34

Maka pada malam itu keluarlah Malaikat TUHAN, lalu dibunuh-Nyalah seratus delapan puluh lima ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka! Sebab itu berangkatlah Sanherib, raja Asyur, dan pulang, lalu tinggallah ia di Niniwe. Pada suatu kali ketika ia sujud menyembah di dalam kuil Nisrokh, allahnya, maka Adramelekh dan Sarezer, anak-anaknya, membunuh dia dengan pedang, dan mereka meloloskan diri ke tanah Ararat.

Demikian Firman Allah memberikan keterangan rinci, tentang tamatnya riwayat seorang raja lalim yang sombong secara tragis karena dibunuh oleh anak kandung sendiri. Perlu diingat, “kesombongan yang paing puncak ialah apabila sampai berani menghina Allah.” Alkitab tidak pernah memberikan catatan bahwa Hizkia dan rakyatnya melakukan suatu aksi, saat menghadapi teror pasukan Asyur selain dari “membentangkan semua ke hadapan Tuhan dan berdoa.” Dengan kata lain, mereka menyerahkan  sepenuhnya kepada Tuhan dan percaya kepada-Nya, lalu membiarkan Allah yang bertindak. Bangsa Yehuda menyadari sepenuhnya makna firman-Nya: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”

Ketika terjadi perselisihan antar etnik di Ruanda beberapa tahun silam, diceritakan pengalaman satu keluarga yang sangat setia beribadah. Di satu hari rumah mereka didatangi sekelompok pasukan dari etnis yang berbeda tentunya, dengan memerintahkan agar anggota keluarga berkumpul semua, akan ditembak mati, sesudah itu rumah akan dibakar. Karena menurut para algojo ini dengan membakar rumah terbakar jugalah gereja kerena mereka tinggal di rumah pastori sebagai pelayan jemaat. Menyadari situasi yang amat mencekan saat itu, mereka hanya pasrah. Hanya satu permintaan yang disodorkan kepala keluarga, agar memberikan waktu sejenak untuk berdoa. Mereka berkumpul suami, isteri dengan tiga anak yang menginjak remaja bertelut berdoa.

Sebelumnya sang suami hanya meminta waktu tiga menit saja setelah itu terserah kepada kalian, sahutnya kepada para pasukan yang kelihatan beringas itu. Dengan ketulusan hati masing-masing anggota keluarga itu, khusuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa tanpa menyadari waktu berjalan sampai akhirnya mereka selesai. Setelah membuka mata, mereka tidak melihat seorangpun dari pasukan tadi dan tidak mengetahui ke mana pergi. Berselang sebulan kemudian kepala keluarga yang gagal dieksekusi ini, pergi berkunjung ke satu perkumpulan ibadah di tempat lain. Di sanalah dia menceritakan pengalaman tersebut saat menyampaikan firman, dengan maksud menyemangati umat-umat agar semakin teguh bergantung kepada Tuhan.

Pada akhir khotbah salah seorang tamu spontan berdiri memberi kesaksian, ternyata dia adalah salah seorang dari pasukan yang akan membakar rumah dan gereja yang baru saja diceritakan. Dia melanjutkan bahwa pada saat keluarga berdoa para algojo itu melihat nyala api mengelilingi mereka dan seluruh komplek gerejapun dikelilingi oleh api. Menyaksikan itulah mereka semua lari menyelamatkan diri. Akan tetapi sehari kemudian saya mencoba melintas untuk melihat situasi, ternyata rumah dan gereja masih berdiri utuh. Dari situlah saya mengerti bahwa yang saya lihat itu adalah kuasa Tuhan menyelamatkan umat-Nya yang setia. Saya rindu mengalami kuasa yang sama. Demikian kesaksian nyata dari orang tersebut.

Apa yang telah dilakukan Yesus kepada umat-Nya yang setia dulu kala, itupun dapat menjadi pengalaman kita sekarang ini bahkan selaman-lamanya. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Ibrani 13:8. Akan tetapi jangan lupa rahasianya “bertobat..!”

error: Content is protected !!