Beperkara Dengan Tuhan

Marilah, baiklah kita berperkara! –firman TUHAN–Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. Yesaya 1:18.

Renungan Harian – Inilah salah satu himbauan di Alkitab dimana Tuhan pernah mengundang umat-Nya untuk beperkara. Dan ayat ini sengaja di copas (copy paste) sebagaimana tertulis. Mengapa ini perlu kita perhatikan dan amati, karena kata “beperkara” sering menimbulkan konotasi dalam pikiran manusia secara umum. Adapun kesan yang akan muncul dengan kata “perkara” ini sudah tentu ada kaitanya dengan proses pengadilan. Kalaupun  demikian alur pemikiran para pembaca tentang ayat ini tentu ada korelasinya ke arah sana. Namun hal ini akan lebih spesifik pengertianya jika kita flashback atau soroti kembali situasi dan kondisi kerajaan Israel ketika Yesaya dipanggil Tuhan menjadi nabi.

Jika anda sudah pernah membaca seluruh kitab nabi Yesaya yang terdiri dari 66 pasal, yang telah lebih dulu dicatat di kitab Tawarikh dan Raja-raja pasti mendapati, bahwa keadaan Israel dan Yehuda berada pada kategori pemerintahan yang amburadul. Terjadi permusuhan antar kelompok, perebutan jabatan dan kekuasaan. Masih banyak kejahatan-kejahatan bangsa Israel dan Yehuda yang dicatat dalam sejarah termasuk Alkitab. Penyebab utamanya karena mereka lebih mengandalkan kekuatan dan melupakan Tuhan, sehingga terseret bahkan sampai kepada penyembahan berhala. Siapapun yang memerintah sebagai raja saat itu selalu harus direpotkan hanya mengurusi banyak perkara antar sesama di kalangan rakyatnya. Untuk itulah Tuhan memanggil Yesaya dengan maksud mengadakan restorasi. Dan himbauan yang selalu dia canangkan kepada bangsa sesuai pesan Allah ialah, agar beperkara dengan Tuhan bukan dengan sesama manusia.

Hanya di era pemerintahan raja Hizkia berhasil terjadi pemulihan, tidak lain karena raja yang rendah hati itu selalu datang kepada Tuhan membawakan segala perkaranya. Apapun yang dihadapi selalu mengandalkan Yang Maha Kuasa. Maka hasilnya terjadilah reformasi besar-besaran di Israel dengan hasil yang gemilang. Ini dapat kita baca lebih fokus di 2 Raja-raja 19.

Selanjutnya di Yesaya 41:21  Tuhan kembali mengatakan, “Ajukanlah perkaramu, firman TUHAN, kemukakanlah alasan-alasanmu, firman Raja, Allah Yakub.”

Apa yang ditekankan melalui ayat renungan hari ini patut dipedomani oleh semua pengikut Tuhan sepanjang masa, demi menghindari persoalan. Tentu selama menjalani kehidupan ini kita tidak dapat terhindar dari masalah, bisa saja itu datangnya dari diri sendiri, maupun orang lain. Apabila kasusnya menyangkut dengan pihak lain, seandainyapun kita berada di jalur yang benar tidaklah menguntungkan dengan beperkara di meja hijau atau pengadilan. Kalau tidak percaya silahkan bertanya kepada mereka yang pernah menempuh jalur itu. Boleh jadi kemudian anda disebut menang di pengadilan dan mungkin akan memdapatkan ganti rugi namun dalam usaha memperoleh keputusan seperti itu anda sudah harus lebih dahulu mengorbankan tenaga dan materi yang jauh lebih besar dari ganti rugi tersebut. Belum lagi menanggung kelelahan dan beban-beban pikiran selama menjalani proses peradilan.

Itu sebabnya Tuhan memanggil agar kita beperkara dengan Dia. Ajukan perkaramu kepada-Nya lengkap dengan alasan-alasan yang benar. Jangan pernah membuka pikiran untuk mengadukan persoalan kepada pihak kepolisian yang selanjutnya akan diproses di pengadilan. Ini sungguh tidak menghasilkan kenyamanan. Apa yang telah dialami raja Hizkia akan menjadi pengalaman kita asalkan selalu beperkara dengan Tuhan. Satu kisah nyata sehubungan dengan hal ini akan kita lihat pada renungan berikutnya.

error: Content is protected !!