Beperkara Dengan Allah-Sumber Kekuatan Baru

Dengarkanlah Aku dengan berdiam diri, hai pulau-pulau; hendaklah bangsa-bangsa mendapat kekuatan baru! Biarlah mereka datang mendekat, kemudian berbicara; baiklah kita tampil bersama-sama untuk beperkara! Yesaya 41:1.

Penyejuk Jiwa – Masih sekitar memaknai perlunya beperkara dengan Tuhan. Berkali-kali melalui nabi-Nya Allah  mengingatkan umat manusia agar ditengah-tengah kecenderungan beperkara satu sama lain di pengadilan, lebih baik datang mendekat dan berbicara kepada-Nya. Apa yang terjadi di Israel dan Yehuda kelihatanya terulang di kalangan masyarakat seantero dunia ini dan lebih memuncak saat sekarang. Salah satu yang paling menonjol dan sangat meresahkan adalah peristiwa-peristiwa bom bunuh diri. Tak henti-hentinya aparat pengaman memikirkan penanganan masalah ini, dan disaat yang sama tak terbendung juga air mata menangisi para korban yang jatuh, umumnya oang-orang yang tidak mengerti pergolakanya. Barusan saja, tepatnya hari Selasa 05 Juli yang lalu pada pukul 07.35 WIB, terjadi bom bunuh diri di halaman Mapolresta Solo, bertepatan pula HUT Bhayangkara yang ke 70.

Hati siapa yang tidak miris menyaksikan kondisi tubuh pelaku yang hancur berkeping-keping hingga berserakan. Tentu kita semua melihat itu melalui liputan media sosial. Untung pada peristiwa kali ini tidak ada korban jiwa kecuali seorang oknum polisi yang menderita luka. Namun kita belum lupa pada saat peristiwa yang sama terjadi di Bali, Perancis, Madinah bahkan di jakarta selalu menelan korban jiwa.

Tindakan kejahatan seperti inipun merupakan bukti-bukti, lebih senangnya orang-orang maupun kelompok, beperkara dengan pihak yang dianggap musuh, ketimbang menyerahkan kepada Allah. Padahal semua tahu apa akibatnya, baik para pelaku maupun sasaran. Alkitab telah lebih dahulu menubuatkan bahwa kondisi seperti ini tidak akan semakin kondusif, berhubung sifat manusia semakin  garang, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. 2 Timotius 3:3,4

Beberapa tahun yang lalu di Rumania, ditangkap seorang pendeta dengan dakwaan selalu memberita kan injil di beberapa kota. Seperti kita tahu bersama, bahwa negara Eropah timur yang berpaham komunis itu, tidak memperbolehkan penyebaran agama secara legal. Setelah pendeta tersebut diborgol, penguasa daerah setempat berpikir lebih baik melenyapkan dia dengan memasukkan ke satu ruangan sel yang telah disedikan. Bilamana beberapa minggu tidak dijenguk tentu sudah mati karena tidak makan dan tidak minum. Berselang beberapa saat ketika algojo menganggap si pendeta sudah pasti meninggal mereka mendekat keruangan sel, namun heran karena mendapati hamba Tuhan itu masih segar bugar. Pintu sel dibuka untuk mencari tahu bagaimana dia bertahan hidup tanpa ada yang melayani, padahal menurut perkiraan dia seharusnya sudah mati.

Ketika sedang wawancara tiba-tiba komandan algojo terperanjat melihat seekor kucing masuk dari celah-celah terali besi membawa roti yang masih tebungkus dan sebotol kecil menuman mineral. Pada saat para algojo kelihatan bingung,  pendeta berbicara dan mengatakan, “Kucing inilah yang melayani saya setiap hari, dan saya percaya Tuhan yang mengatur.”

Inilah awal sejarah masuknya penginjilan ke Rumania walaupun belum pernah didukung secara undang-undang. Pelopor nya adalah seorang hamba yang hanya beperkara dengan Tuhan. Satu terobosan yang mendatangkan kenyamanan tanpa mengorbankan siapapun.

error: Content is protected !!