Bentangkan Perkaramu Di Hadapan Allah

Hizkia menerima surat itu dari tangan para utusan, lalu membacanya; kemudian pergilah ia ke rumah TUHAN dan membentangkan surat itu di hadapan TUHAN. 2 Raja-raja 19:14.

Penyejuk Jiwa – Hizkia adalah raja yang berhasil mengadakan restorasi di Kerajan Yehuda selama dia memerintah. Bukit-bukit pengorbanan yang telah dijadikan tempat penyembahan berhala oleh raja-raja sebelumnya, dia pulihkan menjadi tempat memuja Allah. Banyak yang dilakukan oleh Hizkia hingga berhasil menggiring bangsa Yehuda kembali kepada rel yang sebenarnya yakni mengikuti hukum-hukum Allah. Akan tetapi dicelah-celah kesuksesanya memulihkan keadaan, datanglah tantangan yang mengancam keamanan dari bangsa Asyur dengan rajanya yang terkenal bengis bernama Sanherib. Semua kerajaan sekitar telah dia kuasai tinggal mengadakan expansi ke wilayah Yehuda yang kian mendekat.

Sejarah menyaksikan bahwa serdadu bangsa Asyur terkenal paling ganas diwaktu itu dan mungkin untuk sepanjang zaman. Penduduk kota-kota yang menolak tuntutan mereka supaya menyerah dapat saja dimusnahkan  secara kejam tanpa memandang usia maupun jenis kelamin. Untuk menambah penghinaan agar lebih menyakitkan, kadang-kadang orang Asyur menyusun mayat-mayat musuh mereka menjadi suatu timbunan besar baikan tugu sebagai tontonan. Cara ini juga dimaksudkan untuk menakut-nakuti bangsa lain yang masih tersisa, barulah timbunan tersebut dibakar.

Dapat kita bayangkan kegelisahan hati rakyat Hizkia, menghadapi ancaman ini apalagi mendengar bahwa sasaran berikut dari serdadu Asyur adalah mereka (Yehuda). Apalagi telah mengetahui bahwa utusan Sanherib telah menyampaikan surat kepada Hizkia yang berisi penghinaan, bukan saja kepadanya dengan rakyatnya tetapi juga menghina Tuhan. Kita dapat membaca cuplikan surat itu di 2 Raja-raja 19, atau di Yesaya 37 demikian bunyinya,

Beginilah harus kamu katakan kepada Hizkia, raja Yehuda: Janganlah Allahmu yang kaupercayai itu memperdayakan engkau dengan menjanjikan: Yerusalem tidak akan diserahkan ke tangan raja Asyur. Sesungguhnya, engkau ini telah mendengar tentang yang dilakukan raja-raja Asyur kepada segala negeri, yakni bahwa mereka telah menumpasnya; masakan engkau ini akan dilepaskan? Sudahkah para allah dari bangsa-bangsa yang telah dimusnahkan oleh nenek moyangku, dapat melepaskan mereka, yakni Gozan, Haran, Rezef dan bani Eden yang di Telasar? Di manakah raja negeri Hamat dan Arpad raja kota Sefarwaim, raja negeri Hena dan Iwa?” Yesaya 37:10-13.

Inilah petikan bunyi surat yang telah dibaca oleh Hizkia, berasal dari Sanherib yang sombong. Sikap itu  ada termaktub dalam isi suratnya yang beranggapan bahwa dia seolah-olah lebih perkasa dari semua termasuk dari Allah yang hidup yang disembah oleh Hizkia bersama rakyatnya. Keberaniannya melontarkan ucapan arogan ini dilatarbelakangi keberhasilanya menghacurkan bangsa-bangsa kafir seperti disebut satu persatu dalam suratnya, termasuk para allah mereka masing-masing karena memang dalam bentuk dewa-dewa atau patung sembahan. Mari kita lihat bagaimana Raja Yehuda Abdi Allah itu menyikapi ancaman Sanherib melalui ayat selanjutnya,

Hizkia menerima surat itu dari tangan para utusan, lalu membacanya; kemudian pergilah ia ke rumah TUHAN dan membentangkan surat itu di hadapan TUHAN. Hizkia berdoa di hadapan TUHAN, katanya: “Ya TUHAN semesta alam, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim! Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, dan dengarlah; bukalah mata-Mu, ya TUHAN, dan lihatlah; dengarlah segala perkataan Sanherib yang telah dikirimnya untuk mencela Allah yang hidup. Ya TUHAN, memang raja-raja Asyur telah memusnahkan semua bangsa dan negeri-negeri mereka dan menaruh para allah mereka ke dalam api, sebab mereka bukanlah Allah, hanya buatan tangan manusia, kayu dan batu; sebab itu dapat dibinasakan orang. Maka sekarang, ya TUHAN, Allah kami, selamatkanlah kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah TUHAN. Yesaya 37:14-20.

Dari pengalaman ini kembali kita diingatkan pada saat berhadapan dengan situasi yang mencekam mungkin juga kita diliputi rasa takut, masuklah ke rumah Tuhan, bentangkan segala perkaramu di hadapan-Nya melalui doa yang sungguh.

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang. Mazmur 37:5,6. Pesan ini harus diamalkan satu paket, serahkan, percaya, biarkan Dia yang bertindak. Banyak orang berserah kepada Tuhan, percaya pada-Nya, akan tetapi giliran saatnya bertindak dia yang melakukan. Ini bisa terjadi karena seseorang merasa dirinya lebih kuat. Ingat seruan ini, “semakin kita menyadari bahwa diri kita lemah dan tak berdaya, di situlah kita kuat. Semakin berat beban anda dan saya, semakin diberkati perhentian, bila kita menaruh beban tersebut kepada sang pembwa beban yaitu Kristus.” Kita dapat lihat ini lebih nyata melalui jawaban Tuhan kepada doa Hizkia pada renungan berikut.

error: Content is protected !!