Benar-Benar Merdeka

Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”
Yohanes 8:36.

Penyejuk Jiwa – Sisi yang berbeda tentang “meredeka” diungkapkan dalam ayat renungan kali ini. Mengapa disebut berbeda, karena penekanan sebelumnya masih berkisar pada kemerdekaan yang didapati melalui penurutan kepada hukum-hukum yang berlaku. Baik itu secara nasional, maupun organisasi, bidang usaha semuanya dioperasikan berdasarkan aturan-aturan yang disusun sedemikian rupa. Kita semua mengetahui hal itu dan telah meyakini kebenaran dari prinsip tersebut.

Bagaimana halnya dengan pernyataan ayat Alkitab di atas. Yesus yang menyebutkan itu saat Dia masih bersama dengan murid-murid-Nya di dunia ini. Sudah barang tentu sebutan itu menjadi Firman yang kekal kepada umat manusia sepanjang zaman. Kemudian rasul Paulus menuliskan lagi dengan penekanan yang sama seperti berikut, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Galatia 5:1. Inilah rangkaian yang disebut dengan “Rencana Keselamatan” melalui kematian Kristus. Bagaimana ini bisa terjadi mari kita simak proses kejadianya.

Firman Tuhan merumuskan, “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 6:23. Sedangkan kitab yang sama telah mengungkapkan satu kenyataan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3:23,24. Berdasarkan pernyataan ayat-ayat Alkitab di atas, kita sudah mengetahui bahwa semua manusia harus mati dalam arti kematian kedua, karena semuanya telah berdosa sedangkan upah dosa ialah maut. Bukankah semua pembaca dapat menangkap poinnya di situ! Maka dalam hal inilah Kristus merelakan dirinya menggantikan kita menjalani kematian itu dengan mengorbankan diri-Nya.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Yohanes 3:16,17. Itulah sebabnya hampir di seluruh kidung-kidung rohani sering kita melantunkan syair-syair, aku yang harus mati, namun Engkau ya Yesus mengorbankan diri-Mu menebusku.

Catatan sejarah Romawi kuno, menuliskan pengalaman dua orang sahabat akrab beranama Bob dan Wenis. Begitu kentalnya persahabatan mereka sekalipun sebenarnya tiada ikatan kekeluargaan. Keduanya telah berteman dari sejak muda, namun karena mungkin dibedakan oleh visi masing-masing sehingga Wenis menikah sedangkan Bob tetap berstatus bujangan. Namun begitulah perjalanan hidup kadang diterpa badai, kadang angin ribut. Wenis terlibat dalam satu tindakan kejahatan sehingga dia harus diproses di pengadilan. Sesuai dengan proses hukum yang berlaku di Romawi saat itu maka Wenis terpaksa dijatuhi hukum mati sesuai bobot perlakuannya. Mendengar inilah Bob merasa kaget, sementara Wenis ada di balik terali besi menanti eksekusi yang telah ditentukan.

Terngiang di pikiran Bob membayangkan nasib anak-anak sahabatnya yang masih kecil-kecil membutuhkan kasih sayang ayah, sedangkan isteri Wenis tidak punya pekerjaan mencari nafkah. Lalu dia putuskan dalam hatinya untuk menghubungi pihak terkait di pemerintahan menyodorkan satu solusi. Model hukuman mati di Romawi ketika itu ialah di tiang gantungan. Tidak peduli betapa tragisnya menjalani hukuman tersebut namun Bob mencoba berupaya agar pengadilan kerajaan melepaskan Wenis dan Bob sendiri bersedia menggantikannya. Alasan yang dia kemukakan bahwa Wenis masih punya tanggung jawab dengan keluarganya, sedangkan dia tahu Wenis adalah orang baik-baik. Walaupun melalui proses yang cukup alot, pendek cerita pemerintahan Romawi mengabulkan. Tibalah hari yang ditentukan untuk eksekusi Wenis dibebaskan dari penjara, Bob menjalani hukuman gantung menggantikan sahabatnya.

Semua orang terharu mendengar berita spektakular itu, tentu anda dan sayapun demikian. Akan tetapi pertanyaannya ialah, “Apakah kita terharu juga dengan apa yang dilakukan oleh Yesus bagi anda dan saya?”

Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Yesaya 53:3-5.

error: Content is protected !!