Belajar Dari Pengalaman

Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat. Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba. 1 Korintus 10:6,11.

Langkah keenam: Belajar dari pengalaman.

Nats Alkitab untuk renungan harian kali ini sengaja mengajak kita semua untuk merenungkan sejarah perjalanan bangsa Israel dari Mesir menuju Tanah Kanaan ribuan tahun yang lalu. Yang namanya sejarah yaitu catatan peristiwa yang benar terjadi masa silam dan perlu dikenang menjadi pelajaran berguna bagi generasi kemudian. Itulah sebanya diceritakan kembali melalui ayat-ayat sebelumnya, bagaimana umat pilihan Tuhan di bawah pimpinan Musa ketika itu harus terlunta-lunta di sepanjang perjalanan karena selalu megingkari perintah Tuhan. Padahal di depan mata mereka sendiri melihat bahkan menikmati  perkara-perkara ajaib saat menuruti apa yang Allah firmankan. Akan tetapi mujizat yang mereka alami bukan mendorong sebagian besar bangsa itu menghormati Tuhan, malahan merajalela di dalam kejahatan seperti persungutan, percabulan dan pemberontakan. Karakteristik itulah yang mendatangkan derita menimpa kehidupan mereka sehingga perjalanan yang seyogianya dapat ditempuh 40 hari berlanjut menjadi 40 tahun. Sangat disesalkan bahwa orang-orang Israel yang berangkat dari tanah Mesir semua tewas di perjalanan karena pendurhakaan kepada Allah, kecuali hanya 2 orang yakni Yosua dan Kaleb selamat hingga ke tanah perjanjian atas penurutannya.

Itulah sebabnya rasul Paulus mengingatkan kita yang hidup di zaman akhir ini dan sebanyak dua kali mengulangi pernyataan yang sama,  “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.”

Tujuan amaran  tersebut tidak lain agar kita belajar melalui pengalaman. Ada sebutan dari bahasa lain mengatakan, “Experience is the best teacher-Pengalaman adalah guru terbaik.” Sudah barang tentu sebutan ini alkitabiah bersumber dari ayat di atas. Konon di Oranienburg sekitar 35 km dari kota Berlin yang biasa di kenal dengan Sachsenhausen yakni kota kecil menjadi pusat pembantaian di zaman Hitler didirikan sebuah monumen dengan tulisan, “Siapa tidak mempelajari sejarah akan jatuh terperosok karena mengulangi peristiwa yang sama.” Ini tentu lebih spesifik mengingatkan kebrutalan nazi di bawah kepemimpinan Hitler yang membantai ribuan orang yang tidak bersalah di tempat itu. Tujuanya juga agar tidak pernah lagi muncul oknum-oknum dengan perlakuan yang sama karena sudah belajar dari pengalaman.

Steve Jobs pendiri Apple, Perusahaan IT ter-innovatif di dunia ketika masih hidup pernah mengeluarkan satu sebutan, “Saya bukan meremehkan nilai pendidikan tinggi, namun hal itu hanya menyita waktu kita dan berkurang di bidang pengalaman.” Memang ini terbukti dari riwayat hidupnya yang bertahan hanya 6 bulan kuliah di Reed College  Portland, Oregon. Selebihnya Steve mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apa yang kita alami sendiri, demikian juga penglaman orang lain bisa saja ini mencakup dua aspek yakni yang baik maupun yang buruk. Jika suatu pengalaman pernah membuat kita atau orang lain gagal jangan diulangi, dan jika itu penopang kesuksesan lanjutkan bahkan tingkatkan.

error: Content is protected !!