Bagaimana Mengalahkan Ketakutan

TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. Mazmur 27:1,2.

Penyejuk Jiwa – Kurang lebih lima abad yang lalu suatu peristiwa terjadi yang melukiskan apa akibat rasa takut. Tepatnya pada musim gugur tahun 1462, dimana tentara Rusia dan Tatar saling berhadapan diseberang menyeberang sungai Oka, tiga ratus kilometer di sebelah timur kota Moskow. Beberapa kali pasukan Tatar membangun jembatan untuk menjangkau pihak Rusia, tetapi mereka dipukul mundur dengan kerugian besar. Walaupun pasukan Rusia lebih sedikit jumlahnya, sungai itu memberikan keuntungan kepada mereka.

Kemudian sesuatu terjadi yang membuat hati orang-orang Rusia merasa takut. Suatu gelombang dingin melanda dari sebelah utara, sampai-sampai air sungai Oka mulai membeku. Pada saat malam tiba dan dingin semakin menjadi-jadi, pasukan Rusia mulai ketakutan kalau-kalau pihak musuh menyeberangi sungai dan saat matahari terbit akan memusnahkan mereka. Sambil mengelilingi api unggun, masing-masing mulai menyatakan rasa takut mereka. Semakin bertambah dingin semakin gelisah, akhirnya sebelum tengah malam mereka membongkar kemah masing-masing semua melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa.

Ketika fajar menyingsing keesokan paginya pasukan Tatar mendapati bahwa pihak musuh telah menghilang. Mereka mulai menduga-duga jangan-jangan pasukan Rusia telah menyeberangi sungai pada malam hari dan sedang bersedia menyerang dari belakang. Dengan segera merekapun melarikan diri sejauh-jauhnya.

Orang-orang Rusia tidak pernah berhenti sampai mereka tiba di Moskow, demikian juga pasukan Tatar melarikan diri sampai mereka tiba dengan selamat menyeberangi sungai Volga. Ketakutan telah menyebabkan kedua pasukan berlarian ke arah yang berlawanan, untuk menyingkir dari bahaya yang semata-mata hanya dalam khayalan belaka. Memalukan memang, tetapi peristiwa ini benar.

Orang yang takut akan Allah dan hidup atas sepengetahuan-Nya, tidak perlu khawatir akan apa yang hendak dilakukan manusia kepadanya. Demikian juga dari bahaya lain yang mengancam.  Ini pernah dialami oleh Rasul Paulus yang dicatat di buku Kisah Para Rasul 27. Kejadianya ketika Paulus dalam perjalanan ke Roma memenuhi panggilan kaisar sehubungan dengan proses pengadilan.

Selama dua minggu angin topan melanda kapal yang membawa mereka, sehingga awak kapal bersama seluruh penumpang dilanda perasaan takut akan keselamatan jiwa mereka, kecuali hamba Allah itu tetap tenang. Setelah badai agak reda, ia menguatkan semangat teman-temanya seperjalanan dengan kata-kata ini: “Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorang pun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini. Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku,dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau.”  Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku. Kisah Para Rasul 27:23-25.

Nubuatan Alkitab telah meramalkan saat -saat yang semakin bergelora akan semakin terbentang di depan umat Allah. Apa yang kita lihat sekarang ini belum apa-apa dibanding dengan peristiwa yang menggentarkan akan terjadi. Nabi Daniel melukiskanya seperti ini: “dan akan ada suatu waktu kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu. Daniel 12:1.

Kemudian Injil Lukas lebih menegaskan lagi, “Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Lukas 21:26.

Akan tetapi kita tidak perlu takut apa-apa untuk masa depan yang akan datang itu, asalkan kita tidak pernah lupa jalan-jalan yang telah ditunjukkan Allah bagi kita, juga pengajaran-Nya dalam kehidupan  masa lampau. Ingat kata-kata pemazmur, ingat pengalaman Rasul Paulus dan tentu ingat juga pengalaman anda yang ajaib bersama Tuhan.

error: Content is protected !!