Apakah Yang Kamu Cari?

Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Yohanes 1:36-38.

Penyejuk Jiwa – Mungkin para pembaca merasa bertanya dengan topik renungan ini mengapa judulnya merupakan satu pertanyaan. Namun sengaja kita mengangkatnya secara tertulis dari apa yang ditanyakan oleh Yesus kepada dua sosok yang mengikuti Dia dari belakang ketika sedang mencari orang-orang yang mau menjadi murid-Nya. Jika kita baca jalan peristiwanya secara lengkap di injil Yohanes, kita mendapati  sesuatu yang harus diinterpretassi secara teliti agar memahami maknanya. Ini adalah tahap awal pelayanan Yesus setelah dibaptis oleh Yohanes di sungai Jordan. Sambil berkeliling di daerah Galilea melayani orang-orang semntara sedang mencari siapa yang mau menjadi murid. Perlu kita ingat bahwa Yohanes pembaptis telah mengumumkan melalui ceramah-ceamahnya akan kedatangan Yesus mengawali missi penyelamatan umat manusia. Tentu ada orang yang tertunggu-tunggu ingin mengenal juruselamat dunia melalui pandangan mata.

Dan ketika Yohanes melihat Yesus lewat, ia berkata dan saya yakin sambil menunjuk: “ Lihatlah Anak domba Allah!” Saat itu Yohanes pembaptis sudah mempunyai pengikut, dan ketepatan ada dua orang yang sedang bersama-sama dengan dia. Namanya Andreas dan Simon. Mereka berdua inilah yang langsung mengikut Yesus dari belakang. Ketika Dia tau ada yang sedang mengikuti-Nya Ia menoleh dan bertanya: “Apakah yang kamu cari?” Mengapa ketika Yesus melihat ada orang yang mengikut Dia malah menggunakan kata tanya “apakah?” bukankah seharusnya pertanyaan-Nya, “siapakah yang kamu cari.” Pertanyaan ini bukan sekedar permainan kata. Dan tidak juga salah terjemahan. Silahkan anda cek dalam berbagai versi Alkitab tetap menggunakan kata tanya yang sama “apakah.”

Dengan cara bertanya seperti itu sesungguhnya ada yang mau ditekankan oleh Yesus kepada setiap orang yang mau mengikut Dia, baik dulu, sekarang, maupun yang akan datang, yakni motif atau tujuan yang murni. Terbukti dari jawaban kedua calon murid yang Dia tanya, masih banyak orang yang mempunyai motivasi yang keliru saat mencari, apalagi jika yang dicari adalah sosok seorang idola.

Di era delapan puluhan ada satu sinetron yang sangat disenangi pemirsa waktu itu berjudul, “Apa yang kau cari adinda?” Jika anda sudah turut menyaksikan drama serial itu pasti masih ingat pemeran utamanya seorang pemuda ganteng dan kaya, dengan seorang wanita cantik. Keduanya saling jatuh cinta dan diujudkan sampai ke jenjang pernikahan. Sungguh bahagia mereka pada awalnya ditambah dengan lahirnya anak sebagai buah hati keluarga. Akan tetapi datanglah saat yang tak diduga, pria ganteng yang telah menjadi suami dan ayah dari anak-anaknya, menderita sakit serius dan menurut dokter salah satu kakinya harus diamputasi sebagai opsi therapy. Pendek cerita hal itu dilakukan namun tidak membuahkan hasil yang menggembirakan, akhirnya mereka harus mengeluarkan uang banyak untuk berobat sana sini. Keadaan itu membuat keluarga menjalani hidup yang memprihatinkan. Yang sangat memilukan, dalam keadaan seperti itu masih teganya sang isteri meninggalkan suami dan anak-anaknya dengan nasib yang tak terbayangkan, pergi selingkuh dengan pria lain. Itulah rupanya makna dari judul tersebut, “Apa yang kau cari adinda.” Jika yang dicari hanya kegantengan, atau kecantikan ada saatnya itu luntur atau hancur. Jika yang dicari semata-mata kekayaan, itupun bisa tumpur. Sekalipun cerita itu dikemas dalam bentuk sinetron, namun kasus yang sama sering terjadi dalam kehidupan.

Oleh sebab itu mari kita maknai hakekat perkataan Yesus ketika menayakan, “Apakah yang kamu cari?” Karena tanpa disadari, anda dan saya sering mengalami hal serupa tapi tak sama ketika mengikut Yesus. Dalam  keadaan masih sulit katakanlah pendapatan masih pas-pasan, di rumah belum ada perabotan apa-apa, maka tekun berdoa dan rajin beribadah. Pada saat Yesus memberkati dengan limpahnya, rumah dipenuhi dengan barang-barang mewah, lengkap dengan alat-alat olah raga bergengsi, mobil, dan peralatan lain yang competitif. Tersitalah waktu untuk mengurus dan memanfaatkan semua itu, tiada lagi yang tersisa untuk berdoa apalagi beribadah. Akhirnya lupa Tuhan yang memberikan segalanya. Yang paling menyedihkan, mulailah membusungkan dada sambil berkata sesumbar, “Semua ini tentu karena kehebatan saya!” Dengan demikian motivasi kita hanya demi kepentingan pribadi. Mari bertanya kepada diri, “Apa yang kucari saat mengikut-Mu ya Yesus?” Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. Habakuk 2:4. Demikian Firman Tuhan mengingatkan!

error: Content is protected !!