Allah Di Pihak Kita-Siapa Yang Melawan?

Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?  Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Roma 8:31-37

Renungan Harian – Topik renungan hari ini cukup menghibur dan bukan hanya menghibur, namun pasti. Akan tetapi ada langkah-langkah utama yang perlu ditelusuri agar tidak menjadi bumerang bagi para pembaca dalam artian bagai senjata makan tuan. Yang pertama, harus jelas dalam benak semua pembaca kriteria yang menentukan, apakah Allah sedang berpihak kepada kita atau tidak, saat melakukan sesuatu. Sebab kebanyakan umat beragama berpikir, apabila sudah berdoa, berdoa dan berdoa itu sudah cukup membuktikan bahwa Allah ada di pihaknya, tidak peduli pengalaman apa yang sedang dia jalani dalam kehidupan. Ada satu ilustrasi yang dapat dijadikan contoh meskipun agak menggelitik namun bisa menggiring pikiran anda dan saya lebih menyadari dan mengerti makna keberpihakan Allah.

Misalkan satu pertandingan sepak bola yang sering kita tonton di lapangan hijau, atau melalui siaran lagsung di televisi. Selalu ada penomena tersendiri saat para pemain kedua kesebelasan yang akan bertanding, dimana beberapa di antaranya lebih dahulu berdoa pribadi di lapangan. Hampir di setiap turnamen kita menyaksikan pandangan mata seperti itu. Saya sering menyaksikan diantara mereka yang berdoa menganut kepercayaan yang sama namun berada di kesebelasan yang berbeda dan akan segera berlaga selama dua kali empat puluh lima menit. Sudah barang tentu doanya agar Tuhan membantu memberikan kemenangan sama seperti bunyi ayat di atas, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” Ayat 37. Tidak mungkin seseorang berdoa untuk mengalami kekalahan alias gagal.

Nah, jika demikian halnya kepada siapakah diantara yang berdoa itu Allah akan berpihak? Satu kepercayaan yang dianut berarti sama Allahnya. Dengan kata lain mereka sama-sama berdoa kepada Allah yang sama dengan kerinduan yang sama padahal mereka akan segera berlaga. Disinilah muncul pertanyaan tadi, “kepada siapakah Allah akan berpihak untuk memberikan kemenangan?” Bukankah natinya akan ada pihak yang kalah sehingga merasa bahwa Allah tidak menjawab doanya, sebaliknya yang menang mengatakan, “syukur Tuhan menjawab doaku!” Sejauh itukah arti keberpihakan Allah yang dinyatakan melalui ayat renungan hari ini? Sebab salah satu bukti keberpihakan Allah ialah mendengar doa kita meskipun dengan cara-Nya sendiri. Sederhana sekali ilustrasi ini, namun cukup menggelitik sekalipun pikiran orang-orang yang menyaksikan, sering tidak sampai ke arah itu. Makanya kitapun kadang kala bisa terpengaruh melakukan konsep seperti itu.

Untuk menghindari anda dan saya dari kekeliruan seperti itu mari kita simak bagaimana Allah sendiri menjelaskan melalui firman-Nya. Pertama kita akan lihat bagaimana harus berdoa dari segi kontens nya.

Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah. Yakobus 4:3,4

Sesungguhnya pada kedua ayat ini telah termaktub informasi yang jelas sehingga kita dapat mengerti apakah dalam hal berdoa, atau melakukan segala sesuatu membuktikan bahwa Allah ada di pihak saya atau kita. Setiap momen yang mempertaruhkan kepuasan diri apalagi hawa nafsu pribadi maupun kelompok, adalah area di mana Tuhan tidak akan berada di dalamnya. Itu semata-mata hanya urusan kemanusiaan. Apa urusannya pertandingan sepak bola yang nyata-nyata kancah persaingan, harus didoakan kepada Tuhan. Misalkan satu pihak mengalami kemenangan, dalam hal mana kemuliaan Tuhan ada di situ. Tuhan tidak akan mau berpihak kepada pribadi maupun tim yang bertujuan memperoleh kepuasan, pada hal kepuasan yang didapat mengoreskan kesedihan bagi pihak lain misalnya yang kalah. Perhatikan saja tim yang kalah dalam pertandingan sering menangis di lapangan selesai pertarungan. Dan tidak jarang juga saat-saat pertandingan terjadi baku hantam, dan bisa saja dilakukan oleh oknum yang sebelumnya berdoa sebelum turun ke lapangan. Sebelum kita kupas tuntas konsep ini pada renungan berikut, mari kita lihat rumus Alkitab yang menjadi substansi rohaninya.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 7:12

Jika saya ingin menang dalam even apakah itu pertandingan, jadikan itu dialami orang lain juga. Apakah ini mungkin dalam pertandingan? Tentu sulit bukan? Sebab tidak mungkin kedua pihak yang bertanding bisa sama-sama menang, yang ada paling draw atau seimbang. Inilah yag akan membuka akal sehat kita sehingga pada renungan berikut kita mengerti dengan pasti apakah Allah berpihak kepada saya atau tidak pada saat melakukan tindakan apapun. Semoga menuntun anda dan saya untuk memaknai.

error: Content is protected !!