Alkitab Kompas Hidup

Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. 2 Petrus 1:19-21.

Penyejuk Jiwa – Alangkah terang benderangnya pengertian kita akan Kitab Suci hanya dengan memedomani ketiga ayat renungan hari ini, sehubungan dengan fungsi dan cara memanfaatkanya. Surat Petrus, ditulis di Perjanjian Baru namun tetap memadukan firman dengan tulisan para nabi yang sudah barang tentu di Perjanjian Lama. Maksudnya tidak lain bahwa firman Tuhan seutuhnya, terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kemudian ada himbauan agar memperhatikanya seperti pelita (alat penerangan) di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar dalam hatimu. Untuk menghindari salah kaprah, agar menjadi tepat arah maka Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. Cukup jelas hakekatnya untuk menjadikan Alkitab sebagai kompas kehidupan.

Diceritakan seorang pria setengah baya dengan semangat sering bersaksi pada setiap ibadah. Dengan bangganya dia berkata, “Saya tidak pernah beranjak dari rumah beraktivitas sebelum membaca Alkitab kemudian berdoa.” Didorong oleh rasa ingin tahu, seseorang menanyakan kira-kira berapa fasal  dia baca dari Alkitab sebelum dia berdoa. Ternyata si pria tersebut menerangkan bagaimana dia melakukanya setiap hari, yakni mengambil Alkitabnya membukakan halaman sesuka hati lalu meletakkan jari tangannya pada lembaran yang terbuka baru berdoa. Sesudah amin dari doanya dia membuka mata untuk membaca ayat di mana dia meletakkan jarinya. Apa yang dinyatakan nats Alkitab tersebut itulah yang menyemangati dia. Misalnya jarinya tepat pada Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Dengan ayat itu maka dengan bergembira dia berjalan karena jaminan Firman Tuhan. Demikian pria tersebut menyampaikan kesaksian dengan apa yang dilakukan secara rutin dan dengan cara itulah dia menjadikan Firman Tuhan sebagai kompas hidupnya.

Tiba-tiba terdengar berita yang mengagetkan dimana pria yang gemar menyaksikan pengalaman itu didapati mati menggantung diri pada satu pohon tidak jauh dari rumahnya. Menurut kesaksian isterinya sejenak sebelum pria itu (suaminya) beranjak dari rumah masih melihat dia membaca Alkitab sebagaimana kebiasaannya.

Berdasarkan pengalamanya dalam menykapi Firmana Tuhan yang selalu disaksikan, maka orang-orang berasumsi bahwa kenekatannya menempuh tindakan bununh diri, tidak lain setelah membaca Matius 27:5, Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.

Sekalipun kisah ini sedikit mengandung anekdot dan mungkin kita tertawa membacanya, namun cara ini tidak jarang digunakan orang saat membaca Firman Tuhan. Menafsirkan dengan kehendak sendiri, dan cara itu memang sangat berbahaya. Sama seperti menggunkan kompas jika tidak sesuai dengan petunjuk penggunaan akan mangakibatkan pengguna kesasar ke arah yang jauh dari sasaran. Itulah sebabnya Tuhan menasehatkan bahwa, “Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri.”

error: Content is protected !!